Topeng Kayu Warisan Mbah Karso

Saya yakin, Mbah Karso akan senang kalau mengetahui Topeng Kayu yang dulu sulit sekali dibuat, sekarang bisa menghiasi setiap rumah penduduk. Tidak hanya jadi hiasan, topeng kayu warisannya juga mampu jadi komoditi dagangan, sumber penghasilan warga Desa Bobung, Gunungkidul, Yogyakarta.

Dulu, topeng nilainya begitu tinggi dan sakral. Untuk mendapatkan setiap topeng, Mbah Karso musti menyendiri, menyepi, dan berpuasa. Kesabaran mutlak dimiliki dalam prosesnya. Topeng hasil “perenungan” Mbah Karso itu kemudian digunakan sebagai topeng tari, dan hanya digunakan khusus saat ada acara adat/pertunjukan budaya saja. Topeng, pun, kemudian mesti disimpan dengan hati-hati.

Mbah Karso telah lama meninggal. Pembuatan topeng sempat terhenti cukup lama. Hingga kemudian pada tahun 70-an, dua warga Desa Bobung, Sugiman dan Tukiran, mencoba membuat kembali topeng dari contoh yang sudah ada.

Pembuatan topeng pada awalnya semata melestarikan budaya, pembuatannya belum fokus. Sugiman dan Tukiran saat itu, bersama hampir semua warga lainnya, masih menggantungkan hidup pada sawah dan ladang.

Pemandu wisata Desa Bobung, Bapak Ismadi, bercerita, pada tahun 70-an itu, saat sungai masih mengalir indah, deras, dan cantik di Desa Bobung, banyak wisatawan dari Jogja mampir ke Bobung hanya untuk sekedar mandi-mandi, memancing, atau foto-foto.

Berputarnya kehidupan warga Desa Bobung dimulai saat seorang wisatawan, yang juga seorang pengusaha kerajinan dan furniture, bernama Bapak Harto melihat topeng hasil karya Sugiman dan Tukiran.  “Pak Harto beli topengnya beberapa, dibawa ke Jogja, terus dijual di showroomnya. Ternyata laku, dia pesan lagi dalam jumlah banyak,” ujar Ismadi.

Pesanan dalam jumlah banyak awalnya membuat Sugiman dan Tukiran kerepotan. Masalah baru kemudian timbul. Siapa yang mengerjakan pesanan?

Konflik horizontal sempat terjadi di Desa Bobung. Banyak orangtua yang menyesalkan topeng kayu jadi terkenal. Apalagi kemudian banyak generasi muda Bobung yang memilih berhenti “nyawah”.

“Orangtua jaman dulu kan mendidik anak jadi petani, karena ada perkembangan kerajinan kayu, orangtua kuatir anak-anaknya berhenti bertani dan malahan kerja bikin topeng,” ujar Ismadi mengenang.

Butuh waktu beberapa lama sampai konflik mereda dan generasi tua, para orangtua menyadari kerajinan topeng punya masa depan bagus, bisa dikembangkan, dan bisa pula menjadi sumber penghasilan.

Saat ini, malahan, dari 138 KK, ada 136 KK yang membuat kerajinan kayu. “Ada yang gak ikut bikin topeng, soalnya kerja PNS,” kata Ismadi menjelaskan.

Setelah diproduksi massal, pesanan terus datang. Kualitas kerajinan kayu Desa Bobung pun diakui baik, bukan hanya di pasar domestik tapi juga pasar internasional seperti Amerika, Australia, Eropa, dan Asia.

Warga Desa Bobung sekarang sudah bisa menghasilkan 80 ribu barang kerajinan kayu per tahunnya. Bukan hanya topeng, tetapi ada barang fungsional seperti nampan, mangkuk. Ada pula hiasan berbentuk binatang dan patung berukuran besar.

aneka kerajinan kayu

Harga kerajinan kayu bervariasi, mulai Rp 7500 (gantungan kunci), Rp 300ribu (topeng), Rp 30-40ribu (hiasan binatang), Rp 30-120ribu (mangkuk dan nampan). Harganya memang tidak murah, tapi sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

Bayangkan saja, untuk membatik satu buah topeng, dibutuhkan waktu sehari penuh. Itu hanya waktu untuk membatiknya saja, belum lagi membentuk, mengamplas, menggambar, merebus dan mengoven tiap potong kerajinan itu! Kalau tidak sabar, karyanya tentu tidak akan baik.

membuat kerajinan kayu

Membatiknya ya persis seperti membatik kain, ditotol satu-satu pakai canting dan malam. Pelan-pelan. Kesabaran yang jadi salah satu mahakarya Indonesia itu layak dibayar mahal, bukan? Apalagi setiap kerajinan sebelum akhirnya bisa dijual mesti dikerjakan minimal oleh 4 orang pekerja. 🙂

Kerajinan kayu sekarang sudah mampu menghidupi warga, hasil karya kerajinan semakin baik pasarnya, dan Desa Bobung makin dikenal sebagai Desa Wisata. Tidak hanya karya, Mbah Karso juga meninggalkan jiwa dalam tiap topeng yang diproduksi warga Bobung.

Selamat istirahat Mbah Karso. Karyamu abadi, sekarang.

/salam topeng

7 thoughts on “Topeng Kayu Warisan Mbah Karso”

  1. Kesabaran memang pantesnya diganjar mahal.
    Produk crafting lebih mahal daripada hasil pabrikan, begitu kira-kira.

  2. Tapi memang ya, apa yang ditinggalkan dari generasi sebelumnya, seperti memasukkan kesabaran dalam proses pembuatan topeng ini, sama saja dengan mengajari menikmati proses dalam hal apapun ya mak. Salut, dengan pioner seperti Mbah Karso yang meninggalkan sebuah kebiasaan yang berbeda dan insya allah bermanfaat untuk penerusnya.

    salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *