Tujuh Jam di Pasar Baru

Kalau bicara soal Pasar Baru, yang melintas di pikiran saya adalah toko bahan pakaian, toko sepatu lawas semacam Bata & Buccheri, tempat bikin jas yang terkenal sejak dulu kala, dan jajanan kaki lima yang enak-enak. 😀

Kemarin, bareng Ngopi Jakarta (Ngojak), saya dan Embun jalan-jalan keliling Pasar Baru dan sekitarnya, dari pagi sampai sore. Dari wangi sampe kuyup. Dari laper, kenyang, laper lagi, kenyang lagi. Dari asing jadi sayang.

Saya sudah cukup lama tahu dan baca soal Ngojak, tapi baru punya kesempatan ikut jalan sama mereka kemarin. Memang sudah hak, pertama kali registrasi dan langsung dapat slot untuk ikutan. Belakangan, di akhir-akhir acara jalan kemarin, saya baru tahu kalau yang mendaftar event Ngojak itu selalu membludak, tapi Mba/Mas founder selalu membatasi peserta karena keterbatasan SDM. Dalam satu kali trip biasanya total peserta 30-an orang, tapi di trip terakhir kemarin totalnya ditambahkan jadi 50-an orang.

Embun dan Founder Ngojak – Novi.

Oh iya, supaya ga kecele, Ngojak ini bukan jasa tur atau travel, bukan  pula trip organizer. Ngojak muncul dari ngobrol-ngobrolnya beberapa orang, yang ingin mengulik dan mengapresiasi ruang-ruang Jakarta, dan memilih menyusuri Kali Ci Liwung sebagai pusatnya.

Kalau ikut jalan sama Ngojak, kita ga perlu bayar apapun, hanya saja kalau dalam trip ada rencana untuk mampir ke tempat ibadah/ tempat yang perlu sumbangan, biasanya ada pengumpulan donasi dadakan alias saweran seikhlasnya.

Omong-omong, ini poster yang menggugah minat saya untuk mendaftar.

View this post on Instagram

Pemerintah kota Batavia yang bergeliat menapaki jalan ekonomi setelah dikembalikan Inggris, membangun sebuah kawasan ekonomi baru yang berbeda dari pasar-pasar lama lainnya, seperti Meester Cornelis, Pasar Senen dan Tanah Abang. Kawasan ini menjadi sentra ekonomi baru bagi pusat kota Batavia di Weltevreden yang menjadi warisan Cornelis Chastelein; Pasar Baru, dibangun tahun 1820. Di sini muncul toko-toko legendaris di samping menjadi Pecinan modern sekaligus terakhir di Batavia. Pasar Baru kemudian mengalami transformasi, dari Pecinan menjadi New Delhi-nya Jakarta pada dekade tahun 1990-an. Pasar Baru juga menjadi simbol sekaligus jejak ekonomi Jakarta yang menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah, ekonomi, budaya, pun sistem kanal air lama Jakarta. #NgoJak Vol.17 : "Passer Baroe: Dari Pecinan Terakhir Batavia Hingga New Delhi Jakarta", Minggu 23 September 2018. Gratis dan terbatas!

A post shared by Ngopi (di) Jakarta (@ngopijakarta) on

Perjalanan dimulai dari Stasiun Juanda, lalu meluncur ke titik-titik yang penting dalam perjalanan tumbuhnya Jakarta. Ke mana saja kami di Pasar Baru? Kok bisa sampai tujuh jam di sana? Dapet belanjaan apa aja? 😀

Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA)

Gedung GFJA sebelumnya difungsikan sebagai kantor berita swasta milik Dominique Willem Berretty. Dominique yang berkebangsaan Belanda ini mendirikan Algemeen Niewsen Telegraaf Agentschap (ANETA). ANETA lalu menjadi corong pemerintahan Belanda, semua berita yang ke luar dari ANETA sudah lewat quality control lebih dulu, intinya sih harus menguntungkan Belanda.

ANETA menguasai perputaran berita hingga 1942, sampai Jepang masuk dan mengambil alih kekuasaan. Ganti penguasa, ganti juga kantor beritanya dong! Jadilah pada masa pendudukan Jepang, ANETA dialihkan, lalu supaya sah namanya diganti menjadi YASHIMA (DOMEI).

Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jl. Antara 59, Pasar Baru
Jakarta 10710, Indonesia
t/f: +62213458771
e: info@gfja.org

Hare Khrisna – Sri Sri Nilacala Ksetra Ashram

Saya tidak pernah mengenal Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna sebelumnya. Gerakan Hare Krishna, demikian biasa disebut, adalah organisasi yang didasarkan pada pemahaman Hindu. Gerakan ini didirikan pada tahun 1966 di New York City oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada.

Kuil Hare Khrisna yang ada di Pasar Baru jauh sekali dari mewah. Semua serba sederhana. Tempat belajar dan berdoa hanya berupa ruangan dengan latar bawah ubin keramik polos, ada retak di beberapa sudut. Di dinding ada kipas angin dan AC untuk membantu menyejukkan ruangan.

Berbanding terbalik dengan suasana kuilnya yang sederhana, ajaran gerakan ini buat saya sungguh mahal. Hare Khrisna mengajarkan kebenaran mutlak. Soal tuhan, perbuatan baik, karma, dan reinkarnasi. Sebagian ajarannya memang jauh dari pikir saya yang dibesarkan sebagai Islam. Tapi, nilai-nilai utamanya sungguh mantul alias mantap betul.

Hare Khrisna meyakini tuhan adalah satu, tetapi kita mengenalnya dalam berbagai nama. Gerakan ini meyakini, setiap perbuatan akan berbalas entah segera atau pada waktunya nanti. Gerakan ini meyakini, roh adalah abadi, dan dapat menempati badan yang lain setelah selesai masa menikmati surga/menjalani neraka.

Ajaran Hare Khrisna bersumber dari Bhagavad-gita, percakapan suci antara Arjuna dengan Persona Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, yang disampaikan sekitar 5.100 tahun yang lampau atau 3100 tahun sebelum zaman Kristus, atau 3700 tahun sebelum kemunculan Nabi Muhammad.

Gerakan ini tidak terbatas ruang, tidak terikat pada agama apapun, dan menerima semua jenis manusia. Jika tertarik, silakan datang ke Kuil Hare Khresna pada Minggu, pukul 2 siang.

KUIL HARE KHRISNA
Sri Nilacala Jagannatha Ksetra Dhama
Jalan Pasar Baru Selatan No. 7F

 

Gereja Pniel – Gereja Ayam

Ini kali ketiga saya berkunjung ke Gereja Pniel. Gereja kemarin sedang ramai-ramainya karena ada perayaan ulang tahun gereja yang ke-105. Di lapangan gereja ada bapak-bapak yang berkumpul sambil main domino, ada ibu-ibu berjualan makanan, dan ada juga jamaat yang sibuk berlatih menari.

Gereja Pniel dibangun pada 1913. Gereja ini jadi simbol kritik sosial di masyarakat pada era penjajahan Belanda. Siapa yang dikritik? Yaitu Gereja Immanuel, yang lokasinya ada di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Dulu, Gereja Immanuel hanya boleh didatangi kelompok bangsawan semacam gubernur jenderal, dan para pegawai pemerintah Hindia Belanda. Gereja Pniel lalu muncul di Pasar Baru untuk menerima jemaat dari berbagai golongan, berbagai suku, tidak peduli apa pekerjaan dan statusnya di masyarakat.

Di umurnya yang 105 tahun, sebagian besar bangunan gereja seperti kaca patri, pintu, jendela, dan bangku rotan masih asli. Di dalam gereja dapat juga kita lihat Alkitab besar cetakan tahun 1855, cawan suci, dan bejana baptisan (1695), seluruhnya adalah peninggalan Belanda.

Gereja PNIEL
Jalan H. Samanhudi No.12, RT.3/RW.3
Pasar. Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

Kelenteng Sin Tek Bio – Vihara Dharma Jaya

Vihara ini dulunya bernama Het Kong Sie Huis Tek. Didirikan pada abad ke-17, sekitar 5 kilometer di luar tembok kota Batavia. Batavia pada waktu itu meliputi Sunda Kelapa, Pasar Ikan, sampai Stasiun Kota. Di sekitar klenteng dulu masih berupa belantara dan rawa yang dihuni binatang liar. Kali Ci Liwung, pada masa itu bahkan masih banyak buayanya!

Daerah Pasar Baru mulai ramai pada pertengahan abad ke-17 waktu lahan persawahan dan perkebunan kopi (Kebun Chastelein) mulai dibuka. Tahun persis pendirian kelenteng baru diketahui setelah ditemukannya buku tua yang isinya daftar penyumbang pembangunan kelenteng yang menuliskan angka tahun 1698 (tahun Macan).

Kelenteng Sin Tek Bio saat ini lokasinya terhimpit bangunan pasar, toko, dan Metro Atom Plaza. Kalau ingin mampir ke sini, carilah lorong sempit persis di belakang Gedung Metro atau cari Gang Kelinci dan susuri jalannya pelan-pelan.

Kelenteng Sin Tek Bio - Vihara Dharma Jaya
Jl. Pasar Baru - Dalam Pasar No.146 Jakarta Pusat 10710

Toko Kompak

Toko Kompak yang bentuknya berupa rumah toko (ruko) ini pada awalnya dimiliki seorang Mayor Tiongkok bernama Tio Tek Ho. Mayor Tio menjabat sebagai Mayor di Batavia pada 1896-1908. Mayor pada masa itu kedudukannya sejajar dengan bupati.

Di pintu masuk Toko Kompak ada dua lempengan logo berbentuk piringan. Lempengan di sebelah kiri pintu bertuliskan “Pasar Gambir, 1908”. Pasar Gambir adalah pasar malam yang sangat terkenal di Batavia. Toko Kompak dianugerahi penghargaan karena Mayor Tio menjadi salah satu pejabat yang berperan aktif memajukan Pasar Gambir.

Pasar Gambir pertama kali diselenggarakan untuk memperingati penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898. Setelah itu, Pasar Gambir diadakan setahun sekali, selama satu pekan-lalu jadi dua pekan karena tingginya minat pengunjung-antara Agustus dan September. Pasar malam ini berhenti diadakan sejak masa pendudukan Jepang tahun 1942.

Saat ini bagian depan Toko Kompak dimanfaatkan oleh pedagang pakaian dan bagian dalamnya tidak terbuka bebas untuk umum. Tapi jangan khawatir, kita masih bisa melongok dari depan untuk melihat bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini.

Toko Kompak
Jalan Pasar Baru No. 18 A
Ps. Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

Berjalan dengan serombongan manusia, menyusuri jalan, melihat manusia lain dalam berbagai kondisi adalah kegiatan yang menyenangkan. Setiap ayun langkah punya ceritanya masing-masing. Kemarin, Ngojak menemani kami bertemu dengan cerita-cerita itu. Terima kasih untuk kesempatannya. ^^

/salam sayang Jakarta

24 thoughts on “Tujuh Jam di Pasar Baru”

  1. Seru sekali ya Re..

    Btw aku lagi baca buku Dying To Be Me. Isinya menarik banget. Tentang pengalaman mati suri, dan apa yg sesungguhnya dialami ketika kita mati (setidaknya menurut pengakuan penulisnya). Kapan2 kupinjemin kalo mau :)))

  2. Passer Baroe ini emang seru buat jalan-jalan, banyak yang dilihat. Makanan favoritku di sana Soto Betawi yang kalo dari ujung jalan belakang kita belok kanan, tenda gede gitu 😀
    Kalo gereja dan kuilnya aku belum pernah masuk euy, ternyata gitu ya isinya.

    1. Kuil sama gerejanya bisa dimampirin kapan aja, Kapiya. Aduh aku telat minta rekomendasi tempat makan nih, kemaren malah jajan mie ayam. 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *