Wisata Sejarah di Puri Klungkung, Bali

Kerajaan Klungkung Bali berhasil mencapai puncak kejayaan dalam bidang pemerintahan, adat dan seni budaya pada abad ke 14– 17 di bawah kekuasaan Dalem Waturenggong. Namun, pada 1908 kerajaan ini akhirnya menyerah pada intervensi Belanda.  Di pertempuran akhir, Raja Klungkung terbunuh. Pengikut dan istri-istri raja kemudian mengakhiri perang dengan cara puputan (perang hingga titik darah penghabisan).

Sebagian besar bangunan dari masa kerajaan sudah hancur atau hilang. Tiga bangunan yang tersisa dan masih bisa dikunjungi hingga hari ini yaitu Kertha Gosa, Pemedal Agung, dan Puri Agung Klungkung. Kertha Gosa ini mudah sekali ditemukan. Letaknya bersebrangan dengan Tugu Monumen Klungkung, tepat di tengah kota Semarapura.

Memasuki gerbang Kertha Gosa, pandangan akan langsung tertumbuk pada Bale Kambang. Seperti namanya, Bale Kambang adalah sebuah balai/ruang. Di Kertha Gosa, Bale Kambang digunakan sebagai tempat istirahat raja dan sebagai tempat perjamuan makan untuk para tamu kerajaan yang datang berkunjung. Bale ini juga mempunyai fungsi sebagai pengadilan untuk persengketaan yang terjadi di kerajaan Klungkung.

BALE KAMBANG
pintu masuk Bale Kambang
area sekitar Bale Kambang

Bale Kambang memiliki nama lain yaitu Taman Gili (taman yang berada di tengah-tengah pulau buatan). Bale ini menjadi bagian dari bangunan komplek Kerajaan Klungkung, dan dibangun oleh raja pertamanya, Ida I Dewa Agung Jambe sekitar tahun 1686.

LANGIT-LANGIT BALE KAMBANG. Source: https://id.pinterest.com/pin/391250286349568455/

Langit-langit Bale Kambang menjadi pusat perhatian di Kertha Gosa. Pada langit-langitnya ada beberapa lukisan klasik yang menggambarkan:

  1. Lukisan tentang pelelintang, yaitu ramalan tentang nasib seseorang yang ditentukan oleh hari lahirnya.
  2. Lukisan tentang Pan Brayut, yaitu sepasang suami istri yang memiliki 18 orang anak.
  3. Lukisan cerita Sutasoma yang merupakan karya Mpu Tantular, pujangga di masa pemerintahan Raja Prabu Hayam Wuruk di Majapahit pada tahun 1365.

Lukisan Sutasoma menceritakan tentang seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Raja ini adalah penjelmaan dari Dewa Wisnu yang nantinya akan menyelamatkan dunia dari kekejaman seorang raja raksasa. Ceritanya, si raja raksasa ini mau menguasai dunia dengan cara meneror semua raja. Raja-raja itu kemudian dijadikan korban persembahan oleh raksasa.

Setelah semua raja tunduk, tinggallah Sutasoma, calon korban berikutnya. Raja raksasa tidak tahu kalau Sutasoma yang merupakan penjelmaan Wisnu ini sangat kuat dan sakti. Dalam pertempuran, tentu saja raja raksasa kalah. Dunia kemudian jadi aman, damai, tenteram dan Sutasoma lalu kembali ke surga dewata sebagai Dewa Wisnu.

Pemedal Agung yang dulu berfungsi sebagai pintu masuk puri.

Bangunan peninggalan kerajaan yang bisa kita kunjungi berikutnya yaitu Pura Pemedal Agung. Pura ini menjulang tinggi dengan struktur yang kokoh sejak didirikan pada abad ke-17. Dulunya, Pemedal Agung merupakan pintu masuk menuju Puri Klungkung. Saat ini lokasi pintu masuk diubah ke sisi seberangnya (di dekat Bale Kambang).

Bangunan berikutnya yang saya kunjungi di areal kerajaan adalah Puri Agung Klungkung. Menuju ke Puri Agung, kita harus lebih dulu keluar dari Kertha Gosa, lalu berjalan ke arah Utara sekitar 300 meter, lalu menyeberanglah ke sisi kanan jalan.

Gapura besar akan menyambut pengunjung di pintu masuk Puri Agung Klungkung.  Puri ini pada masa kerajaan digunakan sebagai bangunan dan tempat suci persemayaman/tempat tinggal raja yang dipercayai sebagai penjelmaan dewa. Puri Agung juga digunakan sebagai pusat kerajaan dan pemerintahan.

Bangunan yang dulunya digunakan sebagai tempat tinggal raja di Puri Agung Klungkung

Memasuki gerbang, kita akan disambut bangunan besar dengan tangga berundak. Bangunan ini dulunya merupakan rumah tinggal raja, namun saat ini dialih fungsikan sebagai ruang pamer silsilah dan foto-foto kejadian-kejadian penting di Kerajaan Klungkung.

Foto-foto di dinding Puri Agung

Berikut tip dari saya jika teman-teman ingin berkunjung ke Puri Klungkung:

  • Pakailah busana yang sopan. Area Kertha Gosa dan Pemedal Agung merupakan wilayah suci bagi penduduk setempat.
  • Gunakan tabir surya. Meskipun musim penghujan, matahari di Bali cukup menyengat dan mudah membuat kulit terbakar.
  • Bawa payung untuk melindungi wajah dari sengatan matahari langsung.
  • Tidak ada penjual makanan dan minuman di area puri, bawa botol minum sendiri sangat disarankan.
  • Jaga ucapan dan tindakan selama berada di puri.

Selamat berkunjung. Jangan lupa untuk berlaku sopan dan menghormati adat istiadat setempat setiap berkunjung ke lokasi wisata, ya. ^^

/salam kerajaan

Foto oleh @nickosilfido@ratrichibi, @atemalem.
Perjalanan bersama Nicko, Ratri, Winny, dan Leoni ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata untuk program Pesona Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *