Asi Perah dan Apel Merah

by | May 12, 2011 | 14 comments

Saya bersyukur untuk nikmat yang Tuhan berikan, sampai hari ini, makanan Embun cukuplah adanya. Saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan tambahan, cukup air susu emaknya saja.

Kadangkala, makanan Embun cukup melimpah. Saya sampai menyimpan sebagian di freezer. Lemari pendingin satu pintu membatasi saya menyimpan asi perah dalam jumlah banyak. Selain ukuran freezer yang kecil, suhu yang berubah setiap kulkas dibuka, membuat asi perah tak awet lama.

Lalu, dikemanakan Re? Sampai saat ini, sudah empat kali asi perah beku saya donorkan. Empat kali untuk 3 bayi. “Semoga bermanfaat ya adek-adek bayi, nanti kalo udah pada gede, kopdar sama Embun ya…”

Dua kali saya mendonorkan asi untuk bayi laki-laki seorang bapak. Bayi si bapak lahir prematur, hingga lewat satu bulan, beratnya dua kilo saja. Seorang dokter menyarankan si bapak mengganti asupan susu formula si bayi menjadi air susu ibu, untuk sementara, hingga berat badan si bayi mencapai ukuran aman. Dokternya membantu si bapak untuk mencari asi donor sementara.

Satu sore, si bapak datang dengan tas, 10 botol kosong pengganti,  dan es batu. Tiba-tiba kantong plastik merah yang cukup berat disodorkan pada saya. Duhh, saya lupa bilang pada si bapak untuk tidak membawa apapun untuk saya selain botol kosong pengganti. Saya jadi tidak enak.

Sembari membereskan asi perah beku, si bapak berujar. “Yang dikasi banyak, ya banyak, yang dikasi dikit, ya dikit.” Duh Gusti, hancur hati saya, rasanya sedih mendengar seorang berkata begitu. Sedikit rasa bersalah menelusup ke batin saya.

Lalu si bapak, berhati-hati mengikatkan kotak berisi asi perah beku itu di motornya. “Semoga bermanfaat ya Pak.”

Sepulangnya si bapak, saya membuka bungkusan plastik yang diberikannya kepada saya tadi. Air mata tiba-tiba meluncur bebas di pipi saya. Tidak jelas kenapa saya menangis, tapi air mata tidak bisa berhenti. Kenapa sih si bapak musti bawa-bawa, saya benar-benar tidak enak jadinya. Makin merasa bersalah.

Omong-omong, pada kesempatan kedua, si bapak bikin saya nangis lagi, dia bawa roti. hiks. Semoga si dedek lekas ndut ya Pak, semoga bermanfaat.

Omong-omong, apelnya manis, dan rotinya lembut sekali.

/salam perah.

YOU MAY ALSO LIKE

14 Comments

  1. zulhaq

    Wow….berbagi tak pernah rugi. Salut!

    Reply
    • rere

      om zia mauuu? *kasi es asi sebotol

      Reply
  2. Chic

    *ikut terharu*

    Reply
  3. Ceritaeka

    Ah rere hiks.. Berbagi itu mulia..
    *usap air mata*

    Reply
    • rere

      kasi handuk, kesian baju eka basah

      Reply
  4. gRy

    Aiiiih rere jadi terharu juga 🙁
    Senangnya embun punya mamak seperti dirimu 🙂

    Reply
    • rere

      si jagoan mestinya senang juga punya bapak dan ibu seperti kalian. 😀 *moga sukses jadi breastfeeding father ya Ger.

      Reply
  5. Dilla

    Ya Allah ;( terharu banget aku..

    Reply
    • rere

      semangat dilla, mari dibagi yang bisa dibagi..

      Reply
  6. fairyteeth

    terharu….

    btw, mba kalo ngasih asip buat cowo, si cowo jadi saudara sesusuannya Embun loh… gak bisa jadi jodoh entarannya… 🙂 #serius

    Reply
  7. wiwikwae

    Kalo asi didonorkan, nanti jadinya sodaa sepersusuan ga sih? maaf, belum pernah punya anak. Jadi belum paham betul soal beginian 😀

    postingannya bikin trenyuh, re…

    Reply
    • rere

      kemaren sempet ragu juga sih mah, tapi abis itu aku cari-cari referensinya, ternyata ada ulama yang berpendapat, saudara sepersusuan bisa terjadi jika memenuhi 4 syarat. disusui langsung(bukan asi perah), si bayi tidak minum apapun selain asi, umur bayi dibawah 2 tahun.:D http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest