Empat Bulan Belajar di Rumah

by | Jun 27, 2020 | 0 comments

Apa kabar perjuangan hidup selama pandemi? Apakah kamu termasuk kaum yang berbulan-bulan di rumah aja? Ada yang memulai kebiasaan baru di rumah aja dengan rebahan, dan terakhir malah bosan betul rebahan melulu. Ada yang tadinya kerjanya jajan eh sekarang jago bikin makanan ini-itu. Ada yang tadinya sekolah pagi sampai sore, eh sekolahnya ditutup dan belajarnya harus lanjut di rumah.

Embun jadi salah satu dari sekian juta orang yang terdampak pandemi. Biasanya, dia berangkat pagi betul dan baru beres aktivitas ekstrakurikuler jelang petang. Sekarang dari pagi sampai pagi lagi, yang dilihat muka emaknya saja.

Di waktu kosong, Embun biasanya bikin hasta karya macam-macam. Kadang-kadang bikin busy books, main dandan-dandanan, bikin baju boneka, atau bikin boneka kertas. Kalau cuaca lagi enak, Embun juga main sepatu roda di halaman. Aktivitas selingannya cukup banyak dan variatif. Tapi bilang bosan ya masih juga sesekali.

bikin baju dari gorden bekas

Pandemi terjadi, itu faktanya. Harus cari cara supaya bisa berlanjut dengan baik, nyaman, aman, dan lancar. Adaptasi jadi kunci.

Khusus urusan sekolah, Embun belajar dengan sistem paket latihan. Sekolah sudah siapkan salinan lembar latihan yang cukup tebal. Siswa diminta mengerjakan soal dan kegiatannya di rumah. Setiap hari, orang tua diminta menyetor foto anak sedang mengerjakan latihan dan menyebutkan mata pelajaran apa yang dikerjakan.

Efektif tidak? Tentunya kalau dibandingkan belajar tatap muka secara langsung, hasilnya jauh sekali ya. Di sekolah anak-anak bisa bertanya langsung kalau ada yang kurang dipahami, guru juga bisa luwes pindah-pindah antara murid satu dengan yang lain. Kalau di rumah, komunikasi terbatas berbalas pesan. Soal latihan pun baru diperiksa dua bulan sekali.

Apakah bisa mengikuti pelajaran sesuai kurikulum?
Nah, itu dia. Sepertinya gak kekejer. Banyak betul ketinggalannya. Supaya ga terlalu jauh, kami berupaya bikin jadwal harian:

1. Membaca setiap hari

Membacanya ga dibatasi, boleh apa saja. Minimal dua halaman. Poin pertama ini PR banget buat Embun. Di rumah banyak betul buku bacaan, tapi minat bacanya ga ikut tinggi. Tapi kami belum menyerah, masih sama-sama berusaha supaya membaca bisa jadi aktivitas rutin di rumah.

2. Bikin kreasi

Khusus bagian bikin kreasi ini, Embun ga perlu dipandu. Kadang-kadang malah hasilnya di luar dugaan. Sepertinya dia punya minat tinggi dengan segala-gala yang berhubungan dengan kertas, kain, lem, dan pernak-pernik lukisan.

3. Hapalan

Sekolahnya Embun yang sekarang itu Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), jadi pelajaran agamanya lebih banyak ketimbang sekolah umum. Ada hapalan shalat, surat pendek, hadist, dan doa-doa sehari-hari. Setiap hari, sebisa mungkin, ada surat/ayat/doa yang diulang supaya ga lupa. 🙂

4. Cari informasi baru

Anak-anak seumur Embun masih banyak penasarannya. Baru-baru ini kami cerita soal menstruasi, proses terjadinya, hingga menstrual cup yang emaknya pakai. Saya sungguh bersyukur sekarang banyak artikel dan video yang bisa membantu menjawab pertanyaan keren dari Embun.

5. Belajar online

Bahan belajar udah ada, buku paket juga ada, tapi kadang-kadang masih ada yang sulit dimengerti? Kalau udah begitu, waktunya cari pertolongan. Bisa dengan cari materi ajar yang diposting online, atau sekalian ikutan les online. Salah satu tempat les yang bisa dicoba itu, Kelas Pintar. Sistem belajarnya pakai video, soal latihan, dan simulasi ujian. Langganannya bebas, mau bulanan, triwulan, semester, atau setahun sekalian. Mata pelajaran yang diambil juga bebas, mau satu aja atau malah semuanya.

—–

Covid-19 belum tahu kapan udahannya. Cara hidup, cara belajar sementara harus berubah. Tetap semangat, terus jaga kebersihan diri sendiri/keluarga, dan berhati-hati selalu kalau harus berkegiatan di luar rumah.

Semoga kita semua selalu sehat. Amin!

YOU MAY ALSO LIKE

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest