Gelak Akar Tangis Daun

by | Oct 15, 2010 | 0 comments

Pernah seseorang bercerita, cinta itu menyakitkan. “Seperti diiris,” kata dia.
Pernah lagi, seseorang bilang, cinta itu indah sekali, seelok mentari, sewangi melati.

Itu cinta mereka, kalau cinta aku?
Begini, aku punya banyak cinta, tercecer sana sini, kutitip sana-sini, sisanya aku bawa sedikit di hati. “Untuk jaga-jaga.”

Mengapa pula aku mesti berjaga-jaga? Jadi, seorang nenek dari negeri peri pernah bilang, jangan berikan semuanya, selalu siap sedia, siapa tahu suatu saat nanti, cinta Akar akan pergi. Lalu tanpa akar, batang ranting daun dan buah akan mati. “Apa kau siap?”

Lantas aku berpikir,
Apa adil untuk Akar?

Bagiku, cinta itu nyata-nyatanya gila, masa iya aku harus mengorbankan seluruh bagian hati hanya untuk ditambatkan pada akar yang tidak jelas umurnya.

Iya, aku gila.

Cintaku memang tidak sewangi melati, tapi karenanya aku siap mati.

/bukancintabiasa

YOU MAY ALSO LIKE

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest