Cerita

Hebat, Katamu.

Telingaku mendenging panas setiap kamu bilang “Aku tau kamu bisa, dari dulu aku tau kamu itu hebat!”
Tak pernah kah terpikir olehmu sebaliknya?

——

Memang, pada masa lampau aku pernah berjanji akan mengikutimu kemanapun kamu pergi. Tapi, semestinya memang begitulah cinta, bukan? Aku menganggap masa depan itu ada di punggungmu. Maka, tidak akan susah hidup kita jika aku membebek di belakanganmu.

Belakangan, beberapa tahun belakangan ini aku sadar, hidup kita tidak indah. Banyak cita-cita yang tak sampai, keinginan yang terpendam, harapan yang ditelan sebelum sempat diucap bibir. Toh, meski demikian aku tak berniat pergi. Aku berpikir, memang demikianlah hidup, tak semua harap bisa digapai, tak semua angan bisa sampai.

Ya, kalau yang kita bicarakan ini janji, memang aku akui. Aku pernah dengan demikian berapi-api berjanji padamu. Aku akan mendukung segala cita-citamu, itu pasti. Tetapi janjiku tentang pada akhirnya nanti akan rela meninggalkan kota ini, rumahku saat ini, demi kamu, agak menakutkan.

Kita ada di persimpangan sekarang. Apapun yang aku lakukan tidak akan menyenangkan bagimu, dan apa yang ingin kau lakukan, belum lagi terjadi, sudah membunuhku.

Pernahkah kau pikirkan, aku tidak menginginkannya.

Aku ketakutan.

Aku lelah berdebat.

Aku makin sering bermimpi sekarang. Mimpi buruk. Belum lagi janji itu aku tunaikan, hidupku sudah gelap.
Sebenarnya, aku berharap kamu memahami, tidak perlu mengucapkan kalimat untuk menyemangati semacam, “Aku tau kamu kuat”, “Aku tau kamu bisa”, “Kamu itu pejuang, pasti di sana nanti kita bisa menemukan jalan”.

Pahamilah lemahku, pahamilah ketidakbisaanku. Bagaimana kalau saat ini aku sudah menemukan jalanku, di sini, dan bukan di sana?

Jika pembicaraan kita mulai bertemu dinding. Kau lalu mengeluarkan jurus ampuhmu. “Kamu sudah berjanji”, “Ini bukan hidupku”, “Selama ini aku di sini demi kamu”, “Aku punya cita-cita”.

Berpegang pada apa baiknya aku? Pada dirimu, lenganku sudah kau tepis.

Belakangan ini aku sering berpikir, kalau rasa takutku tidak mampu menahanmu disini, bagaimana nanti saat aku menahan mati di sana.
Akankah kau mengerti?
Akankah kau paham dan memberikan pertolongan?

Aku ketakutan.

——

/mendekati garis mati

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply