HIBURAN AKHIR PEKAN: WAITING FOR THE BARBARIANS

by | Aug 17, 2020 | 4 comments

Gurun yang pemandangannya cantik sekali dan kuda-kuda yang kakinya tenggelam di lautan batu halus jadi pembuka film Waiting for the Barbarians. Sejak filmnya mulai, suasananya udah ga begitu enak. Kerasa kelam, semacam, “pasti ga ngenakin nih…,” gitu.

Saya sengaja ga baca review apapun sebelum nonton. Jadi semua yang ada di film ini adalah kejutan untuk saya. Saya berusaha tidak menebak jalan cerita. Seutuhnya menikmati dan merasakan pesan dari dibawa dialog dan gambar yang silih berganti menguasai layar.

Ketika lihat posternya, saya kebayang genre filmnya adalah action, ternyata ini film drama. Alurnya yang lambat mungkin akan membosankan untuk sebagian orang. Banyak adegan yang tertuang tanpa dialog, hanya ditambah musik latar aja yang nada-nadanya cukup melangut.

Waiting for the Barbarians adalah film yang menceritakan gejolak hati yang dialami seorang pejabat pemerintahan (Mark Rylance). Pak Hakim, demikian ia disebut, punya wilayah kerja di sebuah perbatasan. Tidak dijelaskan perbatasan negara/wilayah mana. Pak Hakim bekerja di bawah perintah pejabat yang lebih tinggi. Dari gambaran yang diberikan filmnya, terasa kalau pemerintahannya dijalankan dengan tangan besi.

Sebagai pejabat karier, tentu Pak Hakim bekerja sebaik-baiknya, seadil-adilnya, dan sesuai dengan tupoksi. Di film digambarkan kalau Pak Hakim cukup hati-hati menjatuhkan hukuman, tetap berusaha mendengarkan pembelaan diri tersangka, dan memerlakukan orang-orang hukuman dengan manusiawi.

Semua baik-baik saja sampai seorang seorang kolonel bernama Joll (Johnny Depp) datang ke wilayah kerja Pak Hakim. Kolonel, akan melakukan inspeksi, dimulai dari orang-orang yang ada di dalam penjara. Satu langkah Kolonel Joll masuk, suasana desa langsung mencekam!

Kolonel Joll diceritakan punya wilayah kerja berpindah-pindah. Dari tiap lokasi, dia akan menghimpun informasi penting terkait keamanan wilayah dan melaporkannya ke pemerintah pusat. Tugasnya sih ga ada masalah ya, tapi sistem inspeksinya yang bikin bergidik. Entah dari mana asal-muasalnya, Kolonel Joll terkesan benci sekali dengan kaum nomaden yang sesekali lewat di daerah perbatasan. Mereka, oleh Joll, disebut “barbarians”.

Di wilayah kerja Pak Hakim, kebetulan ada dua orang barbarians yang dipenjara karena dituduh mencuri hewan. Pak Hakim, sepertinya cenderung akan memaafkan karena toh tidak ada bukti langsung kalau mereka adalah pelakunya. Tetapi Kolonel Joll tidak sependapat.

Pada satu yang cerah, Joll mempraktikkan berbagai macam cara penyiksaan mengerikan dan tak manusiawi pada tahanan tersebut. Mereka, dalam penyiksaan, diminta mengakui kalau barbarians sedang merancang perang dan dalam waktu dekat akan melakukan serangan. Satu tahanan mati, dan satu lagi-dalam keadaan sangat lemah-diminta menunjukkan lokasi tinggal kaum barbarians lainnya.

Film ini sungguh bikin perih. Ada adegan anak kecil memukuli orang barbarians dan warga desa tertawa-tawa melihatnya. Ada adegan Pak Hakim dipukuli habis-habisan setelah ia pada akhirnya hilang kepercayaan pada pemerintah pusat dan utusannya. Ada peran perempuan yang setiap gerak-geriknya adalah duka yang tak berkesudahan.

Masih ingat dengan Robert Pattinson, pemeran vampir ganteng yang bikin hati cewe-cewe berdegup dan dengan rela hati berubah jadi vampir demi cinta? Nah, kali ini dia hadir sebagai anak buah Kolonel Joll yang punya pangkat Sersan Mayor. Jangan harap perannya bikin hati senang ya. Di film ini, dia bahkan jauh lebih menyebalkan dari Kolonel Joll.

Film ini menjadi ajang jumpa pertama kali Johnny Depp dan Robert. Waiting for the Barbarians dirilis secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 7 Agustus 2020. Di Indonesia, film ini ditayangkan ekslusif di Mola TV. Selain dibintangi nama-nama besar seperti Johnny Depp, Robert Pattinson, dan Mark Rylance, film yang diambil dari novel berjudul sama karya pemenang hadiah Nobel J.M Coetzee ini juga hadir berkat arahan sutradara asal Columbia, Ciro Guerra yang filmnya pernah mendapatkan nominasi Academy Award kategori Best Foreign Language Film.

Lokasi syuting filmnya ada di Maroko. Visual indah Maroko sukses direkam oleh sinematografer peraih piala Oscar Chris Menges.

Buat saya, film ini menyisakan kesan yang cukup dalam. Rasa perih, kecewa, dan marah Pak Hakim; duka, sedih, marah, tak berdaya Si Perempuan, dan kejamnya Kolonel Joll dan anak buahnya bikin berbagai emosi timbul saat nonton filmnya. Ada adegan kekerasan di filmnya, jadi tidak untuk ditonton anak kecil ya.

Bioskop exclusive Mola TV juga akan menghadirkan film Iron Mask (Jacky Chan & Arnold Schwarzenegger) di September, dan film Professor and The Mad Man (Mel Gibson / Sean Penn) di Oktober. Kamu bisa streaming film-film keren ini hanya dengan mendaftar sebagai user Mola TV. Download lebih dulu aplikasinya di playstore, lalu pilih daftar, dan bayar biaya berlangganan bulanan Rp12.500 untuk menikmati semua layanan yang tersedia.

Selamat menonton!

——————————————-

YOU MAY ALSO LIKE

4 Comments

  1. Ariefpokto

    Ini film kutunggu-tunggu deh. Dari segi cerita, pemain filmnya. Bikin penasaran.

    Reply
    • Atemalem

      Aku suka banget liat Gana di film ituuuuuu.

      Reply
  2. Ratrichibi

    yawla aku pengen nonton ini deh… mas robert cakep bgt huhuhu

    Reply
  3. duniamasak

    wah robert pattinson dan johnny deep??? auto put to the list to watch 😀

    Reply

Leave a Reply to duniamasak Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest