Categories
Event

Kalau Pancasila Itu Ada

Kalau pancasila itu ada, tukang koruptor, tukang bunuh-bunuhan, tukang klaim orang lain sesat, tukang buang sampah sembarangan, tukang mau menang sendiri, tukang mayoritas yang beraninya rame-rame, tukang pelaku kejahatan seksual, mestinya nggak ada. Pancasila ga kelihatan, makanya para tukang-tukang itu beranak-pinak, ga takut apa-apa, dan ga sayang siapa-siapa, termasuk dirinya sendiri.

Tarian di Persamuhan Pendidik Pancasila Nasional oleh siswa SMA 1 Sentani, Jayapura, Papua.

Akhir bulan lalu, saya mendengarkan curhatnya bapak-ibu guru, para pengajar mata pelajaran sejarah, seni dan budaya, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan agama di Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila 2019. Curhatnya macam-macam, aneka rupa, aneka ragam. Tapi dari semua curhat itu, ada satu yang mengena betul, sampai-sampai nempel kuat macam kakinya cicak di dinding.

“Bagaimana cara kami mengajarkan pancasila kalau contoh di luar tidak ada? Kenyataan mengajarkan hal yang sama sekali berbeda. Koruptor jadi wakil rakyat, pemimpin membela yang salah?”

foto milik Mbak Yuni

Kalau biasanya otak saya agak cair, dan suka menjawab-jawab sendiri padahal tujuan pertanyaannya bukan buat saya, kali ini saya menyerah. Saya menyimak baik-baik Sujiwo Tejo, budayawan dan seniman yang sedang diam, menyerap pertanyaan, dan siap-siap menjawab di depan panggung persamuhan.

Ditunggu-tunggu demikian lama, Sujiwo Tejo tidak bisa memberi jawaban untuk kegalauan yang saya yakin ada di hati semua peserta persamuhan, termasuk saya dan teman-teman blogger undangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Kalau ibu/bapak guru berhadapan langsung dengan murid, kami berhadapan langsung dengan anak, kemenakan, sepupu, dan keluarga yang lain-lain.

Rombongan blogger yang itu…

Binatang apa itu yang namanya pancasila?

Sujiwo Tejo bilang, puncak tertinggi pancasila adalah tidak mengganggu orang lain.

Jadi, apa-apa yang mengganggu urusan orang lain itu bukan lakunya pancasila. Tak perlu pikir jauh-jauh. Contoh nyatanya begini:

Mau nonton bioskop? Boleh! Tapi jangan berisik sampai orang di sekitarmu terganggu. Orang-orang yang masuk ke bioskop itu harus membayar dan bersedia membayar, tujuannya membayar ya untuk menikmati film, bukan mendengar bacotmu.

Jadi jangan sok-sokan kita bicara pancasila tapi tingkah laku masih seenaknya. Yang diucapkan dan yang dilakukan tidak selaras. Bicara manis, tingkah laku bikin meringis.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dalam Persamuhan Pendidik Pancasila Nasional 2019
Foto milik: Hanum

Bicara pancasila, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, hadir juga di persamuhan. Sepanjang duduk di panggung, Ibu Risma cerita soal pancasila dan bagaimana Surabaya mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemerintah Surabaya, kata dia, memaknai pancasila dengan memberikan apa-apa yang warganya butuhkan. Warga butuh tanah lapang untuk berolah raga, maka pemerintah membenahi 500-an lapangan yang sebelumnya tidak dirawat. Lapangan-lapangan ini jadi tempat warga berkumpul dan beraktivitas.

Warga butuh oksigen supaya sehat seiring tumbuh kembang jumlah kendaraan yang tidak ada aturannya. Maka, Risma dan jajarannya bikin ratusan taman sebagai ruang terbuka hijau. Masih ingat tidak dengan si ibu yang marah-marah karena tamannya terinjak-injak saat ada event es krim? Begitu itulah dia memelihara dan mencintai yang sudah dibangun dengan sungguh-sungguh.

Mencintai dengan sepenuh hati, itu yang ingin diajarkan Ibu Risma pada warganya, baik tua, sedang, dan yang muda. Anak-anak butuh contoh, maka pemimpin, guru, dan orang-orang yang lebih tua wajib menunjukkan yang benar. Terus-menerus, agar contoh itu tetap ada, berkembang, menular, dan turun ke generasi yang lebih muda.

Masih dari Sujiwo Tejo di akhir penampilannya dalam persamuhan pendidik kemarin:

“Mari kita tak menghafal pancasila seperti sebagian orang tak menghapal rumus oksigen. Tapi memaknainya seperti tiap hari kita menghirup oksigen.”

video milik: Bung MT

Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila
Surabaya, 29 November – 2 Desember 2019

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng tanpo susah, tanpo seneng
Antheng mantheng
Sugeng jeneng.

Kaya tanpa harta
Kuat tanpa kesaktian
Menerima dengan pasrah
Tidak menuntut balas budi sehingga jauh dari ketakutan
Senantiasa damai dengan bermartabat.

Bait-bait syair di atas adalah karya Raden Kartono, kakak RA Kartini. Bait yang jadi penutup dari penampilan Sujiwo Tejo di persamuhan pendidik kemarin ini sekaligus jadi pengingat untuk peserta persamuhan agar jauh dari keinginan mencari untung bagi diri sendiri, memuliakan manusia lainnya, dan mencintai tanah air tanpa henti.

/salam hormat

1 reply on “Kalau Pancasila Itu Ada”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *