Menjejak Langkah di Kampung Tenun, Buton

by | Jul 6, 2018 | 44 comments

Motif garis warna-warni menyambut saat kaki pertama saya jejakkan di Kampung Tenun Warna-Warni, Buton. Setiap fasad seakan menguarkan ajakan mendekat, mirip gadis yang bersolek dengan baju terbaik dan menunggu di undakan pintu masuk rumah usai mandi sore.

Kampung ini dulu tak bernama demikian, menyebutnya cukup Topa, begitu saja. Kampung Topa, Sula’a memang sudah kadung tenar sejak lama. Perempuan penenun, jemuran kain warna-warni, dan rumah adat yang berjejer di sepanjang kampung menjadi daya tarik utamanya. Kampung ini sudah kaya dari awal.

Desa Sula’a adalah kampung tenun tertua di Pulau Buton. Tenunnya sendiri sudah ada dari abad ke-14. Buktinya ada di Kampua (artefak sejarah berupa mata uang Sulawesi yang terbuat dari kain tenun). Hal yang unik dalam pembuatan Kampua adalah uang ini hanya bisa dibuat oleh putri-putri kerajaan.

Sapa dan obrolan hangat mudah sekali terjadi di gode-gode (ruang kosong di bawah bangunan rumah). Ibu-ibu penenun dapat diajak bercerita dan sudah biasa bercengkrama dengan turis yang silih berganti masuk kampung.

Salah satunya Wa Ode Ramlah, usianya sudah 54 dan punya dua orang cucu. Sejak kecil, kata dia, suara tumbukan alat tenun sudah akrab di telinga. Mulai umur sepuluh, anak-anak mulai diajak membantu. Menyusun benang, merapikan kain, hingga lalu menjadi cakap menjadi pencipta baru lembaran kain tenun khas Buton.

Wa Ode Ramlah, penenun asli Desa Sula’a

Kain tenun bikinan rumah ini fungsinya bukan sekadar pakaian, tetapi juga media hubungan sosial. Semua aktivitas dilakukan pakai tenun, mulai dari lahir hingga berpulang. Corak, warna kain, dan cara menggunakan kain tenun adalah penanda identitas. Secara umum ada 2 motif berbeda, leja (garis) panjang melingkar untuk perempuan, dan motif kotak-kotak dan bunga untuk laki-laki.

Sarung yang diperuntukkan bagi laki-laki boleh digunakan oleh perempuan, sedangkan motif leja milik perempuan tidak bisa digunakan oleh laki-laki jika bentuknya masih sarung. Leja dapat digunakan oleh laki-laki jika sudah dirombak jadi jubah panjang untuk keperluan acara adat.

Jika dilekatkan ke tubuh, ikatan kain sarung tenun menjadi penanda status. Ikatan di atas bahu menandakan perempuan menikah, jika ditambah tali di pinggang menandakan status janda. Untuk perempuan yang belum menikah (masih gadis), sarungnya tetap sama tetapi ikatannya di dada, dibentuk serupa kemben.

Aneka jenis ikatan ini jadi berguna saat proses pencarian pasangan hidup berlangsung. Jangan ganggu yang sedang berpasangan, dan bolehlah berbunga-bunga jika berpapasan dengan gadis di tengah jalan. Oh iya, warga Buton yang laki-laki tidak punya cara khusus untuk menggunakan sarung, hanya satu cara saja untuk semua status. 😀

Warna-warni dan motif tenun cantik itu, baru-baru ini diaplikasikan juga ke rumah adat Sulawesi Tenggara (Banua Tada). Banua (rumah) Tada (siku) ini unik sekali. Semua tiang dibuat dari kayu bulat yang ditumpangkan di atas fondasi batu, sedangkan lantainya dibuat dari papan kayu jati dengan teknik kunci. Teknik ini memungkinkan proses pembangunan rumah tak pakai paku sama sekali. Super keren!

Berdasarkan statusnya di masyarakat ada 3 jenis Banua Tada. Pertama adalah Kamali/Malige. Kamali adalah rumah yang digunakan secara khusus untuk sultan dan keluarganya. Lalu di tingkatan kedua ada Banua Tada Tare Pata Pale yang digunakan untuk pejabat dan pegawai istana. Di tingkatan akhir ada Banua Tada Tare Talu Pale yang digunakan oleh orang biasa. Rumah-rumah di Kampung Topa adalah Banua Tada yang biasanya dicat dengan satu pilihan warna untuk keseluruhan rumah.

Belakangan, atas kesepakatan bersama, dengan tujuan mengembangkan potensi Kampung Topa, rumah adat di sepanjang kampung kemudian dicat. Total ada 107 rumah dan 60 kapal nelayan yang dicat dalam waktu 2 bulan. Kebanyakan rumah dicat motif tenun, ada juga yang digambar mural.

Mural di dinding-dinding rumah bukan asal gambar, tetapi disesuaikan dengan tema besar kampung, yaitu TENUN dan NELAYAN. Ada gambar tarian tradisional (Tari Mangaru), ada gambar ibu menenun, ada gambar kakak cantik berkerudung tenun, gambar bunga motif tenun, gambar perahu, dan banyak gambar lain. Total jumlah mural di kampung ini ada 50 buah. Mural-mural ini digambar oleh 7 orang muralist yang diterbangkan langsung dari Jakarta. ^^

Jarak antar rumah yang cukup besar membuat kaki nyaman menapak di sepanjang kampung. Tegur ramah dari bapak-bapak nelayan yang sedang istirahat melaut membuat saya merasa diterima. Pun ketika saya mengganti pakaian dengan sarung pinjaman dari galeri tenun, lalu berfoto di tangga-tangga cantik rumah, warga di Topa tetap ramah.

Anak-anak kecil dan remaja di kampung juga terlihat sudah terbiasa menyambut pengunjung. Mereka mendekat, mudah diajak bicara, tetapi tidak kebablasan hingga membuat risih. Semua terasa pas.

Anak-anak kecil yang ramah di Kampung Topa.

Membeli kain tenun buatan tangan warga Topa sangat saya rekomendasikan. Harga tenun bervariasi tergantung kerumitan motif dan warna, mulai dari Rp200.000 hingga jutaan rupiah. Mungkin agak mahal, tetapi jika membayangkan proses pembuatan setiap lembarnya yang rata-rata makan waktu satu hingga dua minggu, rasanya harga itu terbayar ya. 🙂

Saat ini sebagai mata pencaharian, di Kampung Topa tercatat ada 70 orang nelayan dan 100 orang penenun aktif. Selain dua pekerjaan utama itu, warga juga memiliki potensi pendapatan dari kunjungan wisatawan. Pendapatan dari sektor pariwisata yang sudah ada sebelumnya inilah yang diharapkan bisa bertambah dengan pesona baru, rumah warna-warni dan aneka mural.

Proses pengecatan rumah adat di Kampung Topa sepenuhnya didukung oleh Pacific Paint. Total selama pengerjaannya Pacific Paint menggelontorkan 3435 liter Glotex untuk mengecat rumah panggung dan atap, 160 kaleng Glotex untuk pengecatan perahu nelayan, dan 700 galon Metrolite untuk dinding dan pagar.

Peresmian Kampung Tenun Warna-Warni

Peresmian Kampung Tenun Warna-Warni, berfoto di depan mural.

Pengecatan Kampung Tenun Warna-Warni ini adalah salah satu kegiatan dari rangkaian panjang perayaan 75 Tahun Pacific Paint. Sebelum ini, Pacific Paint baru meresmikan Kampung Ragam Warna di Kendal. Setelahnya mereka akan ke mana, yaa.. *penasaran

Jika ada waktu dan rezeki baik mampir ke Sulawesi, ayunkan langkah ke Buton. Tidak hanya tenun, pulau ini menawarkan keindahan pantai dan cerita megah Kesultanan Buton. Saya merekomendasikan perjalanan sore ke Pantai Nirwana dengan pasir lembut dan pemandangan matahari tenggelam yang cantik. Lalu, tenggelamlah dalam nostalgia gegap-gempita titah sultan mengamankan Pulau Buton dari Benteng Keraton Buton.

Selamat berkunjung, semoga bahagia di Buton!

/salam serat tenun.

———————————————

Perjalanan ke Kampung Tenun Warna-warni (Kampung Topa, Desa Sulaa, Bau Bau, Buton) bersama blogger, vlogger, dan youtuber pada Juni 2018 ini, atas undangan dari PT Pacific Paint. Foto-foto juga ditampilkan di twitter dan instagram dengan hashtag #kptenunwarnawarni #pacificpaint #75thpacificpaint

 

 

YOU MAY ALSO LIKE

44 Comments

  1. Tuty Saca

    Warna tenunnya cantik – cantik colourfull, rumah mereka juga jadi cakep yaa mbak dihiasi warna – warni. Semoga bisa kesana suatu hari

    Reply
    • rere

      Aminnn, semoga ada langkah mampir ke sana ya, Mba. Bisa mampir ke benteng terbesar di dunia juga kalau udah sampai Baubau. 🙂

      Reply
  2. lita chan lai

    wah, keren banget ya kampung tenun di Buton. rumahnya di cat seperti motif kain tenunnya….keren banget tuh kampungnya, terlihat hidup dan cerah dg warna yang seperti pelangi.

    Reply
    • rere

      Iya Mba, kampungnya jadi keliatan seger dan hidup. Moga abis ini wisatawan makin banyak mampir ke kampungnya, biar pendapatan warga makin tambah-tambah. 🙂

      Reply
  3. Catcilku

    Motif tenunnya seperti kain lurik di Jawa ya. Warnanya cerah banget catnya, cakep

    Reply
    • rere

      Persis, garis-garisnya mirip lurik, tapi warnanya jauh lebih ngejreng, ala-ala kesultanan deh ya, makin mentereng makin keren.

      Reply
  4. Didik

    Indonesia memang kaya budaya. Salah satunya kain tenun ini. Semoga banyak yang memperkenalkan ke dunia.

    Reply
    • rere

      Iya, mulai dari kita yaa.. 😀

      Reply
  5. Fania surya

    Rumahnya cerah2 dan warna-warni ya. Kain tenunnya juga.
    Dari dulu tuh pengen rasanya nyoba praktekin bikin kain tenun. Asyik kali ya bs langsung ngelihat di tempatnya.

    Reply
    • rere

      Hahhaa, iya bener, coba ada workshopnya ya. Ku kemarin ingin coba, tapi takut ngerusak kain si ibu, jadi ya udah lah, pandang-pandangi aja sampai puas. :))

      Reply
  6. nursaidr

    Wah seru ya mba re klo bisa traveling sambil mengenal budaya gini. Nambah ilmu dan tetep dapet susana jalan2nya. Ulasan menarik. Btw, itu rumah sama lain bisa sepadan warna warni gtu. Lucu jadinya. Keren.

    Reply
    • rere

      Iya, ini inisiatifnya keren menurutku. Rumah adatnya pun jadi terjaga dan dipelihara baik. Moga wisatawan rame ke sana ya. 🙂

      Reply
  7. Andiyani Achmad

    Motif dan warna-warnanya cantik banget ya, cerah dan bikin happy gitu rasanya. Semoga aku bisa berkunjung ke kampung tenun buton. aamiin.

    Thanks for sharing mba 🙂

    Reply
    • rere

      Aminnnn, nanti kalo ke sana jangan lupa aku ditag yaa.. 😀

      Reply
  8. maya rumi

    cantik sekali desanya, warna-warni serupa dengan tenunnya, muralnya juga keren-keren…
    wl harga tenunnya mahal tetap ingin punya deh walau hanya 1

    Reply
    • rere

      Harga kainnya memang agak mahal ya Mba, tapi sebanding kok dengan bahagianya. 🙂

      Reply
  9. Caroline Adenan

    Aku belum punya tenun sama sekali di rumah. Jd pengen punya tenun..

    Reply
    • rere

      Beli sebiji pas jalan gitu Mba. Kalau beli di kampungnya langsung rasanya jadi lebih sayang sama kainnya. 🙂

      Reply
    • rere

      Mampir ke Kampung Topa kalau kebetulan main ke Buton yaa.. 🙂

      Reply
  10. urmilamile

    fix ini bikin aku pengen ikutan juga main ke kampung tenun buton!!

    Reply
    • rere

      JADWALKAN, KAK!

      Reply
  11. Prima Hapsari

    Kainnya cakep-cakep, btw unik juga ya cara makenya beda-beda untuk tiap status, jadi ketahuan dah masih gadis atau janda 😀

    Reply
    • rere

      Bener, seru yaaa. Ternyata pembedaan cara berpakaian itu berlaku juga di beberapa tempat di Indonesia lho, salah satunya di Tengger kalo ga salah.

      Reply
  12. gita siwi

    Aku betah deh liat yang kayak gini. Apa ya bagian kekayaan Indonesia yang jadi kebanggaan kita semua ya. Aku masih punya satu stel kain dari oleh2 kakak . Indah ya tenun ini hasilnya halus. Khas garis2nya ih jadi mupeng hahaha

    Reply
    • rere

      Wahhh, mau dibikin apa kainnya Non? Aku tuh suka kepikir jaitin kain buat rok atau atasan, tapi terus batal karena sayang motongnya, hhehe…

      Reply
  13. Idfi pancani

    kain tenunnya warna-warni, rumah perkampungannya warna-warni juga. . ini ketjeeeh banget! Belum pernah ke Buton. Kok keknya menarik banget. Pengen kemari ah.

    Reply
    • rere

      Segerakan, Kak! Kalau kamu udah kemarin pasti tempatnya bakalan makin hitz dehhh..

      Reply
    • rere

      Segerakan, Kak! Kalau kamu udah kemari pasti tempatnya bakalan makin hitz dehhh..

      Reply
  14. Agung Han

    Baju panjang yg dipakai bapak2 mirip lurik jogja

    Reply
    • rere

      Benerr sekalii, motifnya mirip lurik Jawa. 🙂

      Reply
    • rere

      Bawaannya pingin ngeborong semua yah, Kak. 🙂

      Reply
  15. ivonie

    Warna kain tenunnya cantik-cantik dan beragam ya mbak, kampungnya pun jadi makin kece dan hits pastinya :). Nambah lagi pengetahuan ttg kain tenun dan kebudayaan di Indonesia. Makasih sharingnya mbak 🙂

    Reply
    • rere

      Sama-sama Non. Moga bermanfaat. ^^

      Reply
  16. Sadewi Handayani

    Tenun nya cantik-cantik banget aku jadi pengen punya satu aja

    Reply
    • rere

      Kamu bisa titip beli ke Mba Terry @negerikitasendiri. DM aja mbaknya di Instagram yaa. Semoga berjodoh.

      Reply
  17. cicidesri

    asik banget ya melihat warisan budaya Indonesia yang masih dijaga bahkan dilestarikan.

    Reply
    • rere

      Semoga makin banyak yang peduli supaya warisan budayanya terus terjaga. Amin! 🙂

      Reply
  18. Eri Listiyana

    Keren… Kampunganya jadi penuh warna, bagus jg dengan mural motif tenun, sambel berwisata tapi juga sabil belajar mengetahui corak tenun daerah Buton. Semoga bisa berkunjujg kesana.😊

    Reply
  19. kurnia amelia

    Kampungnya cantik ya, instagramable banget,,aku suka kain tenun tapi baru punya 1 doank heuheuu.

    Reply
  20. uchy sudhanto

    masyaAllah cantik-cantik banget motifnya.. ternyata warisan budaya kain ini masih dilestarikan yaa

    Reply
    • rere

      Iya Mba, kalau main ke sana masih banyak yang pakai tenunnya untuk aktivitas sehari-hari. 🙂

      Reply
  21. Bobby Ertanto

    Senang ya bisa main kesana melihat langsung..

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Katakan Yez untuk Yez Yez Yez All Good Hostel! | SEDIKIT CERITA UNTUK KENANGAN - […] bulan kemarin, setelah main ke Baubau, saya sempat mampir ke Jogja sebelum pulang. Di Jogja, saya menginap di Bhumi…
  2. Atemalem - Ikhtiar Hijau ala Randakari - […] ini saya sedang sering-seringnya mampir ke kampung-kampung yang inspiratif. Ada Kampung Kaleng, Kampung Tenun, Kampung Warna, Kampung Inspirasi, dan…

Leave a Reply to Honey Josep Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest