Merindu Larantuka

by | Oct 1, 2017 | 45 comments

Saya hanya punya empat jam untuk sendirian di Larantuka. Terdengar sangat singkat, tapi ternyata waktu yang seadanya itu sudah cukup untuk menjelajah kota, dan jatuh cinta.

Namanya Larantuka. Dulu, pada abad ke-17, Larantuka berbentuk kerajaan yang berlatar agama Katolik. Kerajaan ini, seperti kerajaan lain di Nusantara, pada akhirnya dikuasai oleh Belanda dan pemerintahan kerajaannya dihapuskan. Setelah Indonesia merdeka, Larantuka pun bergabung dengan NKRI dan kemudian menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Flores Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sekarang, sisa kerajaan Larantuka hampir hilang sama sekali, tetapi tidak demikian dengan peninggalan agama katoliknya. Akhir bulan lalu saya sempat berkeliling Kota 1000 Kapel ini dan mampir ke beberapa tempat ibadah. Untuk memudahkan dan menghemat waktu, saya menyewa ojek untuk setengah hari. ^^

Adalah Om Muchsin Ahmadun Dahlan, ojek yang mengantarkan saya berkeliling Larantuka. Ketika mengetahui niat saya untuk berkeliling, Om Muchsin menuliskan nama-nama tempat ibadah yang cukup populer. “Nanti kita mampir ke Masjid juga, di Larantuka Katolik dan Islam hidup berdampingan,” katanya menjelaskan.

Seperti orang tua saya yang berpindah keyakinan dari Kristen ke Islam ketika dewasa, orang tua Om Muchsin melakukan yang sama. Tapi berbeda dengan saya yang lapang hati saat ke luar masuk rumah ibadah agama lain, Om Muchsin memutuskan untuk menetapkan batasan. “Saya tunggu di luar saja,” kata dia.

Mater Dolorosa

Mater Dolorosa adalah tujuan pertama kami. Keinginan untuk berkunjung ke tempat ini sudah lama hadir karena foto-foto yang bertebaran di internet sungguh indah. Lokasinya ada tepat di pesisir pantai, tidak jauh dari pelabuhan.  Di Mater Dolorosa kita bisa melihat rumah-rumah doa (kapel) yang menceritakan perjalanan hidup Yesus dan patung besar Bunda Maria sedang memangku jenazah Yesus.

Mater Dolorosa

Patung Bunda Maria memangku Yesus

Saya menghabiskan waktu cukup lama di Mater Dolorosa, mengunjungi satu-persatu rumah doanya, lalu duduk melamun di hamparan rumputnya. Waktu yang tidak sia-sia, karena sekembalinya ke rumah, pengalaman itu menjadi napas untuk tulisan ini.

Tak jauh dari Mater Dolorosa, saya mampir sejenak ke Kapela Tuan Ma (Bunda Allah) dan Kapela Tuan Ana (Putra Allah). Dua kapela ini akan ramai sekali saat prosesi tahunan Semana Santa (Pekan Suci) dihelat. Pada pekan itu, Kota Larantuka berubah menjadi kota berkabung, untuk mengenang kisah sengsara Yesus, wafat, dan kebangkitannya.

Kapela Tuan Ma

Kapela Tuan Ma adalah kapel tertua di Larantuka dan dibangun dalam masa kepemimpinan Raja Larantuka pertama, Ola Adobala Diaz Viera De Godinho.  Di Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana, saya tidak bisa masuk bahkan ke halamannya. Selain hari ibadah Minggu, pagar kapela terkunci dan tidak terbuka untuk umum.

Di dalam kedua kapela ada patung Bunda Maria dan Yesus yang hanya dikeluarkan setahun sekali dan diarak dalam prosesi Semana Santa. Penasaran? Iya, saya juga. Semoga ada kesempatan kembali ke Larantuka untuk melihat langsung prosesinya.

Puas memandangi tampak depan dua kapela yang jadi pusat perayaan Semana Santa, Om Muchsin mengantarkan saya ke Patung Reinha Rosari (Bunda Maria) yang menjadi landmark kota Larantuka. Patung yang berada di ujung jalan Kota Larantuka ini juga sebagai penanda doa Bunda Maria untuk seisi kota.

Patung Reinha Rosari

Patung Reinha Rosari

Persis di sebelah Patung Ima Reinha Rosari, ada Keuskupan San Dominggo Larantuka. Saya tak punya keberanian untuk masuk dan minta izin melihat-lihat area keuskupan meski gerbangnya terbuka. Meski begitu, saya sempat berdiri beberapa menit di depan gerbang, berharap ada uskup yang mendadak lewat untuk diajak bertegur sapa.

Keuskupan San Dominggo Larantuka.

Katedral Reinha Rosari Larantuka atau yang dulu dikenal sebagai Gereja Besi menjadi tempat perhentian saya berikutnya. Katedralnya luar biasa cantik dan luas. Di halamannya saya sempat duduk-duduk sebentar, menikmati kesibukan orang berlalu-lalang. Pohon besar melindungi sebagian area taman katedral dari pancaran sinar matahari langsung. Angin meniup sepoi-sepoi. Udaranya sejuk meskipun saat itu sudah jelang tengah hari.

Taman Doa Tuhan Meninu jadi tujuan saya selanjutnya. Berbeda dengan dua kapela sebelumnya yang gerbangnya terkunci rapat, area halaman taman doa ini terbuka untuk umum. Khusus untuk kapela memang tertutup dan hanya dibuka setiap hari Minggu.  Di dalam kapela Tuan Meninu disimpan Patung Tuan Meninu atau patung kanak-kanak Yesus. Saat Semana Santa, patung ini, bersama Patung Tuan Ma dan Tuan Ana akan dibuka dan diarak oleh peziarah.

Gerbang Taman Doa Tuhan Meninu

Pemandangan di area Kapela Taman Doa Tuhan Meninu

Pintu Kapela Taman Doa Tuhan Meninu yang tertutup

Menepati janji, Om Muchsin mengajak saya berkunjung ke dua masjid yang sering didatanginya untuk beribadah, Masjid Postoh dan Masjid Agung As Syuhada Eka Sapta. Tidak banyak aktivitas yang terlihat di Masjid Pontoh, tetapi di Masjid Agung cukup banyak orang yang masuk dan ke luar masjid meskipun saat ini ada pekerjaan renovasi di bagian luarnya.

Masjid Postoh

Masjid Agung As Syuhada Eka Sapta

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Flores Timur per 2015 lalu, ada 9197 penganut agama Islam,  2391 penganut agama Kristen, dan 34393 penganut agama Katolik di Larantuka. Sampai saat ini, menurut Om Muchsin, belum pernah dan semoga saja tak akan pernah ada, konflik agama yang cukup besar di Larantuka. Penduduk hidup berdampingan dan saling menghormati kepercayaan masing-masing.

Ucapan Om Muchsin dan perjalanan singkat di Larantuka membuat pikiran saya melayang ke sosok Romo Soegija (Albertus Soegijapranata) dan kutipannya yang terkenal: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat-istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan.”

Semoga kemanusiaan bukan cuma kata-kata yang bisa ditulis lalu hilang terbawa angin ketika dilakukan.

Selamat tinggal, Larantuka.

/salam dari Flores

Catatan: Jika sewaktu-waktu ingin berkeliling kota dan membutuhkan jasa ojek, Om Muchsin bisa dihubungi di nomor 081217814415.

YOU MAY ALSO LIKE

45 Comments

  1. Sukma

    Damai
    Damai
    Damai..

    Aamiin

    Reply
    • rere

      Aminnn, damai dan berbahagia semua makhluk.

      Reply
  2. Nurulrahma

    Waaa pingin ke sini juga mba Re…
    Lihat poto2nya bagus banget

    Reply
    • rere

      Tempatnya cakep, Mba. Kalau suka bengong di pinggir laut, cocok banget ke sini. Sepanjang kota ada di bibir laut semua.

      Reply
  3. Riyardiarisman

    Nyaman banget baca pengalaman seru ini… Langitnya biru banget… Aku masukin lst impian aku akh, hehehe

    Reply
    • rere

      Yay! Jangan cepet-cepet pulang kaya aku, yaa.

      Reply
  4. Caroline Adenan

    Foto2nya kereen. Viewnya emang bagus banget yaaaahhhh. Ya ampun Indonesia itu banyak tempat2 kece ya..
    Beneran ada kerajaan Katolik gitu ya. Islam dan Kristen hidup berdampingan. Ahhh sungguh damai yaaa..

    Reply
    • rere

      Adaaaa, kalau dari sejarahnya ada. 🙂

      Reply
  5. ivonie

    Bangunan Gereja Besi-nya cakep, artistik ya mbak.

    Reply
    • rere

      Banget! Aku betah di sini, cantiknya luar biasa.

      Reply
  6. Haryadi Yansyah | Omnduut

    Ternyata di Flores, pantes aku gak familiar dengan Larantuka ini. Cakep banget ya, dan aku bengong liat gerejanya yang indah itu. Love!

    Reply
    • rere

      Sepakat Kak, gerejanya luar biasa indah!

      Reply
  7. Ayun

    Pertama kali tahu Larantuka dari lagunya Boomerang dulu gara2 kakak dan om suka dengerin lagu itu. Ternyata tempatnya bener2 indah, ya. Foto2nya bagus, Kak. Thanks for sharing, aku jadi tau kalo Larantuka dulunya adalah kerajaan Katholik. Selama ini taunya cuma nama daerah. Hehehe

    ayuniverse.com

    Reply
    • rere

      hahahha, banyak yang tau dari Boomerang malah, ya. 😀

      Reply
  8. Kania

    Wah bagus banget tempatnya, jadi pengen jalan-jalan kesana juga mbak.

    Reply
    • rere

      Aku temenin yaaa.. ^^

      Reply
  9. Puspa

    Wah jadi pengin suatu saat ke NTT sambil maem jagung bose. Salam mba Rere:)

    Reply
    • rere

      Aku malah ga nyobain itu jagungnya.
      Fix harus balik lagi ini mah.. hehehe

      Reply
  10. unggulcenter

    Saya tau Larantuka sejak judul lagunya grup band rock 90an-200an BOOMERANG 🙂 Ternyata begini ya tempatnya. Ada tulisan lain ngga seputar kota dan keramaian serta aktivitasnya mba re?

    Belum kesampaian kesana, hanya sampai Kupang saja.

    Reply
    • rere

      Belum ada tulisan lain, Kak.
      Kotanya kecil, ga begitu ramai juga. 🙂

      Reply
    • rere

      Jadikan, Kak!

      Reply
  11. Noe

    Sukaaaa bgt sm foto2mu, langitnya biruuuuu, bikin kangen mbolaaaang lg euy.

    Reply
    • rere

      Iya, mbolang itu obat buat jiwa banget ya, Kak.

      Reply
  12. Andiyani Achmad

    kok aku tersentuh ya bacanya mba, skrg ini toleransi umat beragama enggak kayak dulu. entahlah. bukannya lebih indah kalo hidup berdampingan 🙂

    Reply
    • rere

      Iya, entah kenapa sekarang fokusnya soal apa yang beda. 🙁

      Reply
  13. Liswanti

    Keren banget di Larantuka ya mba re, yuuk kesana yukk

    Reply
    • rere

      Yuk, kemarin aku belum puassss

      Reply
  14. Novitania

    Larantuka, setiap denger atau baca kalimat itu teringat satu sosok idola stand up comedian yg berasal dr sana. Dia yg mengenalkan saya pada larantuka. Dan fix jadi pengen kesana 😍😍

    Reply
    • rere

      Amin Amin Aminnnn.. Semoga segera bisa mampir ke Larantuka.

      Reply
  15. Wian

    Ya ampuunn kok aku naru tau nama larantuka. Di awal baca judul, aku sempet mikir “apaan tuh larantuka?”.
    Indah banget yaaa…. indomesia memang cantik.

    Reply
    • rere

      Iya, Indonesia luar biasa cantik.

      Reply
  16. Marga

    Keren euy, jadi pingin jalan-jalan ke sini jugaa.

    Reply
    • rere

      Semoga segera ya, Kak. Aku bantu aminkan.

      Reply
  17. April Hamsa

    Paling seneng kalau wisata reliji yang masih berbau2 sejarah gtu.
    Tapi gpp ya mbak yg muslim masuk? Atau minta izin dulu?
    Setuju quote terakhir, moga gk ada kebencian lagi krn berbeda di muka bumi ini. Pada dasarnya aja Allah menciptakan manusia itu gk sama…
    TFS 🙂

    Reply
    • rere

      Boleh, tapi kalau gerbangnya tertutup ya ngga boleh.
      Prinsipnya sama dengan masuk ke kuil, boleh aja tapi tetap sopan dan jangan berisik.

      Reply
  18. anesa nisa

    jauh banget si kak rere mainnyaaaa.
    aku belom pernah samsek ke indonesia timur. semoga bisa kesampean kapan-kapan.
    eniwei dalam rangka apa ke marih?

    Reply
    • rere

      Aminn, semoga keturutan segera ya.
      Kemarin dalam rangka kerjaan, numpang lewat doang sih.

      Reply
  19. Siti mudrikah

    Pemandangannya Indah bgt, apalagi kental dgn sejarah kerajaan di indonesia. Aku baru dengar larantuka, smoga suatu saat bisa explore wisata Indonesia bag Timur.

    Reply
    • rere

      Amin, Kak.
      kalau ke Timur, mampir Larantuka ya. Cantikkkkk

      Reply
  20. vira

    ngebaca komen2 di atas, ternyata bukan gue doang yang keingetnya ke Boomerang :))
    seneng ya kalo antar umat beragama pada akur, urusin keimanan masing-masing aja 😀

    Reply
    • rere

      Iya, semoga nanti-nanti agama urusan pribadi aja. Ga usah dibawa ke mana-mana.

      Reply
  21. Honey Josep

    tuh kan jadi bikin pengen banget ke Indonesia Timur! Mudah-mudahan ada jodoh dan rejekinya 🙂

    Reply
    • rere

      Semoga segera berjodoh ya, Kakk..

      Reply
  22. rere

    Wajib dicatat. Oh iya itu si oom tarifnya juga murce. Kasitau aja kita punya duit berapa, tanya dia dengan duit segitu bisa muter ke mana aja

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest