Lukisan

by | Jan 10, 2017 | 8 comments

Setiap hari ada satu garis yang aku tarik untuk melengkapi gurat wajahmu.
Setiap hari.

Kala teringat bibirmu, aku bekerja keras di situ, menggambar bentuk mulut sambil membayangkan kecupmu.
Kali lain, saat memori membawaku ke tangan besar yang melingkupi punggung, aku melengkapi garis tanganmu, membuatnya nyata. Hingga dadaku sesak, hanya dengan melihatnya.

Hari ini aku sedang mengingat matamu. Lalu aku tak kuasa menahan diri, menarik beberapa garis sekaligus, membuat matamu hidup dan menguarkan tatap panas. Ahh, ramuan dukun mana yang kau beli? Hanya dengan menatapnya saja, aku menggigil di bagian-bagian tubuh tersembunyi.

Ketika nanti gurat tubuhmu lengkap, mampukah aku menjadikannya bernyawa? Agar kita bisa mengulangi malam, saat napas berkejaran, dan mulut memamah lapar.

/ode rindu nomor seratus dua

YOU MAY ALSO LIKE

8 Comments

  1. justitia

    Tetaplah menulis ode ode berikutnya ya kaak..kusukaa…💓

    Reply
    • rere

      Wahhh…
      Ada yang suka. ^^

      Mamaci sangat, nonaa

      Reply
  2. Rry Rivano

    Laff

    Reply
    • rere

      *kiss

      Reply
  3. Rahne Putri

    Kak, aku tak menyangka kamu puitis jugaaaa..

    Kalo baca ini jadi pengen nulis kaya ginian kaya awal awal aku ngeblog tapi udah susaaaah :)))

    Reply
    • rere

      Hayu kakak.
      Duet kitaaaa? 😀

      Reply
  4. Fitri

    Ternyata kak re puitis yaa :*

    Reply
    • rere

      Dudududu…
      Baru kali ini dibilang puitis

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest