Memberi Pilihan Pada Anak

by | Oct 22, 2013 | 9 comments

Untuk beberapa orang, memenuhi permintaan anak bukan masalah. Tinggal buka dompet, keluarkan beberapa lembar, dan selesai. Rasa senang yang membuncah usai menyenangkan hati anak memang tak ada duanya.

Untuk saya saat ini, menyenangkan anak juga bukan masalah. Anak saya masih dua tahun, permintaannya masih terbatas pada mainan.  Kebetulan dia juga tidak terlalu ribet sama baju dan makanan, dia seringnya pakai apa yang ibunya belikan dan makan apa yang ibunya siapkan. Beda dengan mainan.

Jadi ceritanya, pernah saya, dia, dan bapaknya jalan-jalan ke lapangan besar di Minggu pagi. Ada pasar kaget yang lumayan ramai di sana. Saya cari-cari sarapan, suami cari-cari minuman, si bayi tiba-tiba menarik lengan saya sambil menunjuk ke lapak mainan. Saya menuruti permintaannya, niatnya sih mampir sebentar. Menurut saya mainannya kurang menarik, tapi menurut si bayi berbeda. Dia minta satu mainan, saya menolak.

Sepagian sampai siang, muka si bayi tertekuk. 😀

Saya mikirnya, itu mainan yang dia mau, hampir-hampir sama saja dengan mainan yang ada di rumah. Paling-paling dimaenin sebentar terus bosen.  Sayang duitnya, pun. :p

Kok judulnya soal pilihan?

Iya, gini, belakangan ini saya suka memberi pilihan ke si bayi. Sederhana saja, semisal dia mau makan dulu atau mandi dulu. Mau ganti baju atau tidak. Mau giginya disikat oleh ibunya atau sikat sendiri. Mau jajan biskuit atau kacang. Mau beli baju warna merah atau coklat.

Sebisa mungkin saya menghormati pilihannya. Kalau rasa-rasa pilihannya kurang tepat, saya utarakan pendapat soal pilihannya itu. Kalau dia menukar pilihan ya bagus, kalau ga ya sudah.

Kenapa saya ga ambil alih semuanya, supaya aman tenteram? Karena saya mau belajar dari sekarang kalau bayi itu cuma titipan. Saya ditugaskan merawat, setelah besar dia bebas berpendapat dan memilih hendak hidup bagaimana dan dengan siapa.

Saya ga kepingin dia ikut-ikutan. Maunya dia tau kenapa dia pilih A, pilih B, atau pilih C. Kalau sudah bisa memilih dengan sadar, si bayi perlahan akan belajar soal konsekuensi dari tiap pilihan yang dia buat.

Ini kok mikirnya jauh betul, ya? Hehehe..

Tapi beneran, kok. Keliatannya aja jauh. Waktu terbang, ga kerasa sebentar lagi bayinya jadi gadis. Saya dan suami makin tua. Semua harus bersiap-siap.

——

Hari ini saya dan dia ke luar rumah berdua. Saya tanya mau gendong atau jalan? Pilihannya jalan. Setelah jalan agak jauh, saya tanya lagi mau naik angkot atau lanjut jalan? Pilihannya jalan.

Sampai di toko tujuan, saya beri dia hadiah dua koin untuk naik odong-odong. Odong-odongnya ada 4, bentuk mobil, gajah, jerapah, dan kuda.

vScreenshot_1382412536189

Sebelum naik odong-odong kuda, dia sudah memilih odong jerapah.

Saya      : Koinnya tinggal 1, kamu mau naik kuda, gajah, atau mobil?
Embun : Mau naik kuda dulu, terus naik gajah.
Saya      : Ga bisa, koinnya tinggal 1, harus pilih kuda atau gajah.
Embun : *mikir lama, bolak balik antara kuda dan gajah*. Kuda aja…
Saya      : Oke…

odong-odong kuda berhenti goyang, dia tetap minta naik ke gajah.

Saya      : Koinnya sudah habis. Gajahnya ga bisa jalan.
Embun : Gapapa, naik aja..

vScreenshot_1382412671321

Dia masih berharap gajahnya bisa goyang.

Kenapa sih ga dibelikan aja, toh harga koinnya cuma Rp 1500 saja?

Karena :

1. Saya ga mau dia menangkap kesan kalau saya ini ibu yang plin-plan. Omongannya tidak bisa dipegang. Kalau omongan saya tidak bisa dipegang nanti dia tidak percaya sama saya.
2. Saya mau dia belajar ‘menderita’ sedikit. Kalau apa-apa dituruti nanti dia sepele, ga mau ngerti kalau orangtuanya susah. Taunya apa-apa ada di depan mata. Saya pingin dia belajar usaha untuk mendapatkan keinginannya.

Kalo punya anak/ponakan, kamu bakal turuti keinginan mereka atau ga? Kenapa?

/salam pengasuhan.

YOU MAY ALSO LIKE

9 Comments

  1. Billy Koesoemadinata

    eh, diriku juga mulai “memperkenalkan” konsep pilih ke Cissy.
    sederhana aja macam “Cissy mau digendong Mami atau Papi?” ketika dia minta gendong.
    dan, dia yang pilih.. sampe kemudian dia minta pindah gendong.

    Reply
  2. hardjanti

    saya: mau ngaji dulu, atau berenang dulu? miqail (4.5thn), anak saya, menjawab: nonton kartun dulu mak.. Oke, lain hari saya pun memberinya 3 pilihan. saya: nonton, ngaji atau les berenang dulu nak? miqail: main ke tempat bude aja. ya allah– saya nyoba sabar dan belajar menanyakan keinginannya. saya: pulang sekolah kamu mau apa? miqail (sambil ngunyah donat): ngaji mak. trus berenang. pulangnya nonton kartun tempat bude ya? —bener kata ibu saya, miqail persis maknya, waton ngeyel—

    Reply
    • Rere @atemalem

      hahahhahahhahaam, lucu banget!
      *pingin uyel-uyel*

      Reply
  3. capcaibakar

    Anak eike tipe yang kalau pilihan pertamanya dipertanyakan malah jadi manut aja.. ih.. kurang ngeyel ini. :p

    Reply
    • Rere @atemalem

      Emaknya ngasi pilihannya jangan sambil galak, dong!
      hehehhe…
      *nuduh*

      Reply
  4. ipeyphungkee

    Aku juga pake pilihan, Re. Dan karena aku orangnya galak, anak2ku sih kalo aku bilang enggak, nggak berani nawar lagi hahaha…

    Reply
    • Rere @atemalem

      hahahhahaha…
      kamu masih sehat jaga anak cowo tiga ekor aja aku heran kok pey.
      galak mah biasaaa

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest