Menangkal Intoleransi dari Desa

by | Feb 11, 2019 | 40 comments

Saya sering sekali dapat pertanyaan dan pernyataan dari keluarga nun jauh di kampung sana.

“Katanya internet ada berita tumbuhan yang bisa makan daging manusia. Benar ga ya?”
“Katanya mie ayam di warung sana mengandung bahan tak halal!”
“Katanya vaksin itu ga boleh, bahannya belum bisa dipertanggung jawabkan!”
“Bumbu mie instan kalau dimasak bisa bikin kanker!”

— dan lain-lain.

Syukurnya, keluarga masih mau tanya dan ga asal percaya dengan semua berita yang beredar di internet. Oh iya, yang dimaksud dengan internet di sini lebih ke media sosial (facebook dan whatsapp group).

Dua aplikasi ini sudah jadi teman hidup banyak orang. Setiap hari, penggunanya dapat asupan berita terkini dari dua media itu. Karena sudah kadung lekat, setiap tulisan yang beredar bisa jadi dianggap benar. Bukannya mencari fakta dengan mengecek media terpercaya, tapi malah menyebarkan tulisan ke banyak orang. Tulisan lalu menggelinding jauh, menjadi desas-desus dan bibit konflik horizontal.

Terdengar tidak asing, bukan?

Berita terbaru yang saya baca soal konflik horizontal ini adalah soal makam yang dibongkar dan dipindahkan karena beda pilihan calon legislatif. Bacanya saja saya sedih sekali, pandangan politik bisa membubarkan silaturahmi dengan yang hidup, itu kerap terjadi. Tapi ini lawannya orang mati, tidak bisa melawan.

Soal berita hoax dan intoleransi ini, saya mengutip omongan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakir saat menyampaikan materi dalam diskusi publik bertema “Politik dan Ancaman Intoleransi” di Balai Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (10/2/2019).

Amin bilang, hoax terjadi karena dipengaruhi tiga kondisi, yakni teknologi, psiko-kultural, dan politik. Teknologi memudahkan berita terdistribusi, sedangkan kondisi psiko-kultural dan panasnya politik membuat bara semakin merah.

Saya coba cari-cari definisi psiko kultural, dan nemunya ini:  orang dari budaya yang ber­beda menunjukkan cara yang berbeda-beda dalam kebanyakan aspek perilaku manusia. Setiap budaya berevolusi dengan cara khasnya masing-masing dalam berperilaku dengan gaya yang paling efisien untuk bertahan hidup.

Pendapatnya Mas Amin ini, diamini pula oleh Yenny Wahid, Co Founder Wahid Foundation. Yenny bilang, riset yang dilakukan lembaganya menemukan fakta kalau kasus intoleransi terus bertambah dari tahun ke tahun. Kasus intoleransi ini, katanya, adalah dampak dari berbagai bahasan soal keyakinan, agama, etnis, status ekonomi, dan pandangan/pilihan politik yang berkembang di masyarakat.

Punya pandangan hidup berbeda boleh ga? Ya boleh aja dong!
Mendukung capres yang beda? Apalagi itu, bebas aja, namanya hak.

Tapi berita-berita yang beredar bikin masyarakat berantem sendiri. Gimana dong?

Itu kerja berat sih, perlu dukungan dari semua orang. Mulai dari diri sendiri aja dulu. Kalau ada berita, coba jangan langsung sebar. Ambil waktu untuk tabayyun (mencari kebenaran) sebelum bertindak. Kalau faktanya ga ketemu? Ya biarkan pesannya berhenti di kamu. Jangan biarkan dia menggelinding tak tentu arah.

Saat ini banyak lembaga yang fokus menangani masalah intoleransi. Beberapa di antaranya adalah: Komnas HAM, Jaringan Islam Anti Diskriminasi, SETARA, dan yang terbaru adalah inisiasi Desa Damai oleh Wahid Foundation.

Seperti namanya, program desa damai yang dibentuk untuk mengadang intoleransi dan radikalisme ini dimulai dari lingkungan desa.

Kenapa desa? Karena intoleransi muncul dari lapis terbawah. Guru, petani, aparatur desa, semua terlibat. Tapi desa pula yang punya senjata untuk menangkal. Ada kearifan lokal, ada kedekatan emosional.

Sejauh ini, ada 30 desa yang sudah mulai terjangkau Program Desa Damai. Dari jumlah itu, 9 desa dan kelurahan sudah dideklarasikan sebagai Desa Damai, yaitu Desa Tajurhalang dan Kelurahan Pengasinan di Jawa Barat, Desa Gemblengan dan Nglinggi di Jawa Tengah, Desa Guluk-Guluk, Prancak, Payudan Dundang, Candirenggo, dan Sidomulyo di Jawa Timur.

Apa saja yang bisa bikin desa dan kelurahan tertentu disematkan sebagai Desa Damai?

Dalam buku Panduan Pelaksanaan 9 Indikator Desa/Kelurahan Damai yang diluncurkan Jumat (9/2) lalu, tertulis apa-apa saja yang menunjukkan ciri-ciri desa atau kelurahan damai. Indikator tersebut yaitu:

  • Adanya komitmen dan aturan yang disusun dan dipatuhi bersama agar seluruh warga bisa hidup aman dan nyaman.
  • Adanya penguatan nilai perdamaian, kesetaraan, toleransi, dan keadilan. Nilai-nilai ini dikembangkan mulai dari tingkatan keluarga.
  • Adanya praktik nilai-nilai persaudaraan, kepedulian, dan toleransi dalam kehidupan warga.
  • Adanya penguatan nilai dan norma kearifan lokal. Tiap desa diminta mengembangkan kegiatan seni budaya yang berpotensi mengembangkan rasa gotong royong, toleransi, dan kepekaan sosial.
  • Pengembangan sistem deteksi dini untuk mencegah kekerasan, radikalisme, terorisme, dan konflik sosial.
  • Dibentuknya sistem penanganan cepat kasus intoleransi, termasuk penanggulangan dan pemulihan.
  • Adanya peran aktif perempuan di semua sektor masyarakat, termasuk dalam lembaga desa, sistem ekonomi, politik, juga pendidikan.
  • Adanya struktur yang dibentuk dan diberi mandat untuk memantau pelaksanaan desa dan kelurahan damai.
  • Terakhir, adanya ruang sosial bersama antarwarga masyarakat.

Saat peluncuran kemarin, ada pula  Gubernur Jawa Tengah, Mas Ganjar Pranowo. Masnya itu bilang, intinya begini, desa itu kan umumnya guyub, warga saling mengenal satu sama lain. Kelebihan itulah yang harus dipakai dalam menangkal segala berita/kejadian karena hoax atau sikap intoleran. Kedekatan emosional membuat warga bisa mendeteksi orang-orang yang masuk ke desa dengan niat buruk atau orang-orang yang menyebarkan fitnah tidak berdasar.

Buat saya, program yang dibikin Wahid Foundation ini keren sekali. Semoga setelah ini makin banyak desa dan kelurahan yang mau bergabung. 🙂

Lalu, sebagai pribadi, apa yang bisa kita lakukan? Setiap orang punya cara masing-masing. Saat ini saya mencoba mengenalkan soal keberagaman sejak dini pada anak. Kenapa anak? Karena sepuluh, dua puluh tahun ke depan, dunia akan dipimpin oleh mereka. Akan baik jika mereka punya pemahaman yang baik soal toleransi, rasa saling hormat, dan tenggang rasa.

Banyak cara agar damai tak hanya kata dalam kamus.
Yuk mulai dari kita!

Bareng Mba Yenny dan teman-teman blogger.

/salam damai

YOU MAY ALSO LIKE

40 Comments

  1. Marga

    Keren programnya! Suka sedih kalau liat orang berantem cuma gara-gara salah satunya gak bisa toleransi sama yang lain 🙁

    Mudah-mudahan ke depannya kita semua bisa lebih perhatian dengan keadaan sekitar yah, soalnya kan kita hidup ga sendirian, dan di lingkungan pasti orang-orangnya punya latar belakang yang berbeda.

    Reply
    • rere

      Iya, karena dari awal Indonesia sudah beragam. Jangan sampai fanatisme berlebihan bikin kita ga toleran.

      Reply
  2. Kania Safitri

    Wah keren banget program.Wahun Foundation ya semoga berjalan terus dengan baik

    Reply
    • rere

      Semoga makin banyak desa yang terpapar dan semangat ikutan programnya.

      Reply
  3. Kania Safitri

    Wah keren banget program Wahid Foundation semoga bisa terus berjalan dengan baik ya…

    Reply
    • rere

      Aminnnnnn

      Reply
  4. Samleinad

    Bloger punya peran utk ikut melawan hoaks. Miris kalo liat banyak hoaks yg hilir-mudik di media saat ini

    Reply
    • rere

      Sebarkan info yang benar, yuk!

      Reply
  5. Idfi Pancani

    Tabayyun, guyub… nah tuh dua itu harus kita giatkan dan Mari kita lawan HOAX dan INTOLERANSI!!! #damainegeriku

    Reply
    • rere

      #damainegeriku!

      Mohon maaf hanya mengingatkan.
      Sekadar waspada.

      Adalah alasan-alasan yang sering dipake penyebar hoax kalo dikonfrontasi langsung.

      Reply
  6. unggulcenter

    75% hoax disebarkan oleh orang tua 50 tahun keatas, jadi memang karena ketidaktahuan, dan ketidak inginan untuk mendapati informasi yg benar.. repot sih memang tp hrs berusaha.. minimal ga disebar kalau ga jelas (berenti di kita).

    Reply
    • rere

      Yang muda punya kewajiban memandu menuju jalan yang lurus! Semangaaatt

      Reply
  7. Nur Said Rahmatullah

    Alhamdulillah dari kecil saya udah diajarin untuk bertoleransi. kebetulan di rumah ada beberapa tetangga non muslim. dari jaman SD kalo lebaran. udah disuruh anter makanan dan kue ke tetangga. sambil dikasih tahu, pentingnya toleransi keberagaman. untuk saling menghormati dan menghargai.

    dan tetangga yang non muslim di rumah pun juga demikian. Pas natal mereka akan balik kasih makanan ke rumah. oh ya, kalau lebaran mereka juga enggak segan keliling kampung datengin rumah ke rumah tetangga lainnya buat ikutan halal bi halal.

    suka banget liat suasana ini saya.
    yah, semoga kedepannya semakin banyak yang melek akan pentingnya toleransi dan urgensitas menyadari penangkalan berita hoax atau tidak mudah percaya terhadap isu2 yang masuk ke media sosial whtasapp. karena emang, wa/wag ini jadi sasaran empuk buat menebar hoax dan menjerumuskan untuk saling membenci.

    Reply
    • rere

      Duluuu, aku ngerasa kita bahagia dengan perbedaan. Teman sekolah teman rumah beda-beda ga masalah. Sekarang sudah sulit, kuburan maunya seagama, perumahan maunya seagama. 🙁

      Reply
  8. Gita Siwi

    Zaman milenial gini masih banyak juga orang yang dikerdilkan akan perbedaan. Contohnya aja jelang pilpres gini. Maju terus Wahid Foundation

    Reply
    • rere

      Semoga makin banyak lembaga yang bikin program keren kaya gini ya.

      Reply
  9. Nad

    Setuju Mbak. Memperkenalkan keberagaman sejak dini dan memberikan pengetahuan soal perbedaan itu baikkkkk

    Reply
    • rere

      Demi Indonesia yang lebih nyaman di masa depan ya. 🙂

      Reply
  10. Didno

    menjaga NKRI itu memang berat ya..

    Reply
    • rere

      Tapi bisa dilakukan, kalau mau. 🙂

      Reply
  11. Agung Han

    Jelang pilpres, org suka claim ini dan itu, merasa paling bener.
    Sedih jadinya

    Reply
    • rere

      Nah, padahal beda itu gapapa lhoo..
      Ga semua-semua harus sama.

      Reply
  12. Liswanti

    Keren mba prigram begini. Aku tuh kalau dikampung, suka kasih tahu ke sodara berita mana saja yang hoax. Soalnya kebanyakan suka kena. Akhirnya suka aku kasih pengertian. Apalagi jelang pilpres seperti sekarang. Duuuh.

    Reply
    • rere

      Bener.
      Orang-orang banyak terpapar berita dari lingkungan kan ya. Kalau ga ada yang nyeimbangin dengan berita bener, akhirnya bisa berujung ke intoleransi tadi itu.

      Reply
  13. Nurul Dwi Larasati

    Keguyuban dari desa dapat membentuk kepercayaan masyarakat. Nggak termakan berita hoax dari luar sana.

    Reply
    • rere

      Kuat dari desa ya. 🙂

      Reply
  14. Zata Ligouw

    kerennnn artikelnya. Iya sempet liat beritanya soal beda pilihan ngaruh ke pemindahan kuburan sodaranya, sedihhh luar biasa.

    Yuk yuk, mulai damai dari kita…

    Reply
    • rere

      Aku juga sedih.
      Masa iya sampai segitunya.

      Tapi ya buktinya kejadian. 🙁

      Reply
  15. Elly Nurul

    Programnya keren banget ini.. setuju banget kalo kedekatan emosional membuat warga bisa mendeteksi orang-orang yang masuk ke desa dengan niat buruk atau orang-orang yang menyebarkan fitnah tidak berdasar. Semoga semakin banyak yang aware ya dan tidak terburu2 percaya dengan berita yang tidak benar

    Reply
    • rere

      Jadi ngerti itu penghuni apa calon tukang rusuh yaa. 🙂

      Reply
  16. Mporatne

    Sama kaya mpo ding, di what app keluarga dan teman alumni suka menyebarkan berita HOAX.

    Inilah yang akan tergerak hati kita untuk mencari kebernaran berita lewat sumber yang akurat

    Reply
    • rere

      Karena kita bisa cari sumber yang benar, maka kita berbagi. 🙂

      Reply
  17. Andri Mastiyanto

    Wahid Foundation mengajarkan kita bagaimana toleransi. Gus Dur banget

    Reply
    • rere

      Menyenangkan ya ajarannya. 🙂

      Reply
  18. Mporatne

    Mau di desa , mau dikira semua berhak atas kehidupan yang layak dan informasi.

    Apalagi menjelang pilpres semua tahun tahu calon nya . Jangan sampai salah pilih

    Reply
    • rere

      Bener!
      Dimulai dari kita dulu.

      Reply
  19. Desy Yusnita

    Betul itu toleransi memang harus diajarkan kepada anak-anak. Meskipun aku selalu mengajarkan tentang agama yang dianut juga mengajarkan pada dia bahwa tidak semua orang memiliki kepercayaan yang sama pun pola pikir yang sama.

    Thanks sharingnya Ka Rere…

    Reply
    • rere

      Sama-sama.
      Dimulai dari kita dulu yuk!

      Reply
  20. Honey Josep

    harus bisa tahan jempol buat forward berita dari WA ya 🙂

    Reply
    • rere

      Bener, cek dan ricek itu penting!

      Reply

Leave a Reply to Nur Said Rahmatullah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Archives

Pin It on Pinterest