Merencanakan Peninggalan

by | Jan 22, 2021 | 1 comment

Maut, rezeki, dan jodoh adalah tiga hal yang didengung-dengungkan di telinga sebagai trio misteri. Hadirnya di luar kuasa. Sesuatu yang harus diusahakan semaksimal mungkin, lalu hasilnya diikhlaskan sedalamnya pada pemilik semesta. Maut, belakangan ini sering sekali kedengaran gempitanya. Ibu teman saya meninggal, ayah teman saya meninggal. Bukan tak mungkin maut sebentar lagi datang menjemput saya? Sesuatu yang tidak saya tunggu hadirnya, tapi sudah pasti datangnya.

Seandainya bisa tawar-menawar, saya akan berusaha segenap tenaga, minta dipanjangkan usia, diberi kesempatan melihat anak saya tumbuh dewasa, dan mati sambil berpegangan tangan saat menua dengan pasangan. Tapi sekali lagi, maut di luar kuasa. Usia bukan kita yang mengaturnya.

Pembicaraan soal usia ini, sudah saya mulai sejak anak masih kecil sekali. Sepertinya sih dia mengerti, karena dalam doa-doanya sebelum tidur terselip, “Semoga Buma bisa ketemu cucunya, seperti Nenek yang sekarang bisa ketemu cucunya.” 🙂

Memiliki anak adalah pilihan saya, tanpa paksaan dari siapapun. Maka menjaganya, memenuhi kebutuhannya tentu jadi tanggung jawab saya. Selama ini, tanggung jawab itu saya upayakan sekuat tenaga. Lalu bagaimana kalau saya pergi lebih dulu?

Kemarin ada pertanyaan lewat di timeline, dari @bentarabumi.⁣ Apa kamu punya cita-cita hidup yang bukan berupa barang, jabatan, tempat liburan, atau titel akademik?⁣

Saya jawab begini:⁣
“Bisa nyekolahin anak setinggi dan sejauh yang dia mau. Bisa bilang iya kalo dia mau kursus/belajar apapun, entah keahlian baru/minat di bidang tertentu.”⁣

Lalu, apa yang saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan itu? Menabung tentu saja, semua pendapatan dijadikan satu, digunakan untuk membayar kebutuhan sebagian, untuk membayar cicilan sebagian, dan ditabung sisanya. Sebanyak apa tabungannya? Cukup untuk hidup beberapa tahun sepertinya, tapi saya tak yakin bisa cukup sampai anak nanti masuk kuliah.

Jadi harus bagaimana?
Uhmm, yang terpikir di otak saya sampai beberapa hari yang lalu ya hanya itu. Kerja sekuatnya, menabung semampunya, sambil terus jaga kesehatan supaya bisa sama-sama sampai lama.

Lalu, wawasan saya bertambah sewaktu mengikuti webinar soal merencanakan warisan. Webinarnya dihelat oleh Prudential. Produk yang dibahas yaitu PRUWarisan, asuransi jiwa murni yang manfaatnya bisa diteruskan ke keluarga yang ditinggalkan, dan ke pembayar premi jika usianya mencapai masa akhir pertanggungan.

Konsepnya cukup menarik ya. Selama ini saya hanya tahu jika asuransi jiwa adalah perlindungan murni. Jadi, jika kita membayar premi selama 10 tahun dan alhamdulillah masih sehat di masa premi dibayar, maka asuransi sudah selesai melakukan tugasnya. Yang nasabah beli adalah keamanan dan jaminan, dan perusahaan asuransi sudah memberikan. Konsep menanggung jiwa nasabah bahkan setelah premi berakhir ini, sungguh baru untuk saya.

Di websitenya, saya unduh brosur dan melihat juga ilustrasi premi-manfaat-pertanggungan dari PRUWarisan. Sila cek gambar di bawah ini ya…

Premi yang dibayarkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan uang pertanggungan yang diharapkan, bisa pilih antara 5, 10, atau 15 tahun. Jika ingin mewariskan uang pertanggungan lebih besar, tentu bisa sesuaikan premi dan masa pembayarannya. Mas Dani Rachmat selaku Pegiat Perencana Keuangan yang jadi salah satu narasumber pada webinar bilang, “Asuransi jiwa merupakan salah satu instrumen keuangan yang dapat kita miliki dari sekarang sebagai andalan untuk dijadikan warisan selain aset seperti tanah, bangunan atau lainnya, karena manfaatnya jelas tertulis.”

Uhmm, sepertinya memang tidak umum ya mewariskan asuransi jiwa. Tapi ternyata sekarang sudah banyak orang yang memilih opsi ini sebagai “peninggalan”. Memilih produk dan perusahaan penjualnya tentu tidak boleh asal ya karena ada masa depan keluarga yang dipertaruhkan di sana.

Dari Mas Dani, saya dapat informasi ini:

TIPS PERENCANAAN ASURANSI BERBENTUK WARISAN

  • Siapkan sedini mungkin. Bahkan untuk yang masih single boleh saja. Membeli lebih dini artinya akan mendapatkan premi yang lebih murah.
  • Alihkan kebutuhan dana besar. Jika ingin menyiapkan warisan lebih besar, maka premi asuransi yang dipilih tentu harus menyesuaikan.
  • Pilih perusahaan terpercaya. Ketika memilih asuransi untuk warisan, maka penting sekali memastikan perusaaan yang dipilih dapat diandalkan. Warisan adalah rencana jangka panjang, maka pengelolanya juga harus dapat dipercaya.

Bagaimana? Apakah tertarik untuk cari tahu lebih lanjut tentang produknya? Jika iya, silakan hubungi Prudential untuk informasi selengkapnya ya. Klik link ini untuk membuat janji konsultasi.

Semoga kita semua dimudahkan saat merencanakan kehidupan yang baik, aman, nyaman untuk keluarga, serta diberi nikmat sehat agar bisa bersama-sama lebih lama. ^^

/salam sehat

YOU MAY ALSO LIKE

1 Comment

  1. Didut

    Semoga kita semua diberi rejeki dan kesehatan sehingga bisa melihat perkembangan anak kita ketika sudah dewasa kelak ya Re.
    Amin.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest