Panduan Investasi Kala Pandemi

by | Jun 21, 2020 | 0 comments

Kondisi sebagian (besar) orang mungkin kurang baik saat ini. Ada yang harus menutup bisnis, ada yang harus mengurangi karyawan, ada yang dipotong gajinya, ada yang membatalkan rencana belanja rumah atau kendaraan, ada pula yang kesulitan bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Keadaan belum bisa ditebak kapan kembali normal. Karena napas masih dikandung badan, tentu harus memutar otak. Saat ini ide-ide baru bisnis ramai bermunculan. Jika sebelumnya jualan baju, bisa alih profesi jadi penjual masker. Jika sebelumnya buka restoran, maka saat ini bisa melayani pesanan makanan beku (frozen food). Jika sebelumnya banyak jajan, sekarang malah bisa masak dan jual hasil olah tangan!

Panik di awal pandemi kelihatannya sudah mulai berkurang ya. Orang-orang mulai sibuk dan ekonomi bergerak lagi. Kalau kemarin-kemarin sempat sulit menabung/investasi, sekarang sudah terpikir dan bisa melakukannya kembali.

Memangnya harus menyimpan uang? Uhm, harus atau nggak ini tergantung kebutuhan masing-masing. Kalau saya, saat ini menyimpan uang untuk kebutuhannya Embun kuliah kelak. Kalau kamu, apakah ada tujuan yang ingin dicapai?

Beberapa hari lalu, saya sempat ikutan Media & Bloggers Gathering bersama Prudential Indonesia – Investment Highlight and Market Outlook 2020: Life with COVID-19 via zoom meeting. Bahasannya seputar investasi. Ada hal-hal menarik yang jadi catatan saya sepanjang acara berlangsung. Kalau dirangkum, kira-kira seperti ini:

Jika mungkin lakukanlah investasi. Mumpung pasar sedang diskon!

Tapi, investasi seperti apa yang dimaksud?
Nah, untuk ini ada beberapa hal yang harus kita jawab lebih dulu, antara lain:

BAGAIMANA PROFIL RISIKOMU?

Saya mengetahui soal profil risiko ini tahun 2007, saat pertama kali membuka akun reksa dana di salah satu bank swasta. Saat itu saya datang dengan otak sudah berisi sedikit informasi soal “apa itu reksa dana” dan “bagaimana cara membelinya”, tapi tidak punya bayangan produk apa yang sebaiknya dibeli.

Sebelum memilih produk, petugas bank menyodorkan beberapa lembar kuisioner yang harus dibaca dan dijawab. Pertanyaannya soal kondisi keuangan, berapa banyak risiko yang bisa ditanggung, berapa banyak potensi keuntungan yang diharapkan, dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang berkaitan.

Setelah mengisi, nanti akan ketahuan sebenarnya kita ada di posisi konservatif, moderat, atau agresif. Profil inilah yang jadi acuan saat akan membeli produk. Apakah sebaiknya yang berbasis pasar uang, saham, atau campuran keduanya.

Mau coba cek profil risikomu? Cuss klik di kalkulator online ini aja.

HASIL INVESTASI MAU DIPAKAI UNTUK APA?

Seperti yang sempet disinggung di atas tadi. Apakah kamu punya tujuan hidup tertentu yang ingin dicapai dengan hasil investasi di kemudian hari? Maka sesuaikan jumlah investasi dengan tujuan akhirnya itu.

Misalnya nih, tujuan hidup saya ituuuu, bisa nyekolahin Embun setinggi yang dia mau. Plus punya bekal hidup di masa tua supaya ga nyusahin anak/keluarga.

APAKAH SUDAH KENAL INSTRUMENNYA?

Sudah tahu risiko sebesar apa yang bisa kita tanggung? Sudah tahu nanti uangnya mau dipakai untuk apa? Kalau sudah, maka waktunya pindah ke pertanyaan berikutnya, apakah sudah tahu dananya mau ditempatkan di instrumen investasi yang mana?

Tadi sudah sempat disebut di atas, instrumen investasi bentuknya macam-macam, ada reksa dana, saham, pasar uang, emas, properti, deposito, unit link, juga obligasi negara. Tiap instrumen menghasilkan imbal balik yang berbeda. Kalau mau aman, bisa pilih deposito dan obligasi. Kalau mau lebih tinggi potensi keuntungannya, bisa coba ulik-ulik saham dan reksa dana. Kalau maunya investasi sekalian asuransi, bisa pilih unit link.

Baca super banyak lebih dulu sebelum beli menempatkan uang di instrumen tertentu. Yang cocok untuk tetanggamu, belum tentu cocok juga buatmu. Jangan ikut-ikutan yaaa….

APAKAH SUDAH MEMILIH PENGELOLA DANANYA?

Terakhir, untuk investasi tertentu, seperti reksa dana dan unitlink, harus menggunakan pakai jasa pengelola, alias manajer investasi. Manajer investasi biasanya jualan banyak produk. Misal, Reksa Dana Bunga Mawar dibelikan 50% saham, 50% pasar uang, Reksa Dana Bunga Melati dibelikan 100% saham blue chip, Reksa Dana Anggrek investasinya 75% ke pasar uang + 25% saham yang lagi menuju puncak.

Jika kamu hanya memilih produk syariah untuk investasi, saat ini sudah banyak manajer investasi yang menawarkan produk berbasis syariah. Ga perlu lagi mikirin uangnya dibelikan saham yang mana dan apakah sudah sesuai dengan prinsip. Manajer investasi akan pikirkan semua untukmu dan kita tinggal menunggu hasilnya saja.

Oh iya, menurut website OJK, saat ini ada 97 manajer investasi yang siap dan terdaftar membawa dana simpananmu menuju puncak!

——

Langkah investasinya sudah, maka yang perlu diperhatikan berikutnya adalah sumber dananya. Pastikan investasi yang kamu lakukan tidak malah bikin kebutuhan utama tidak terpenuhi. Jadi, aman dulu untuk sebulan, sudah ada bayangan pendapatan untuk bulan depannya, dan sudah ada sumber dana darurat yang mudah dicairkan.

Dana darurat?
Yoi! Setiap orang disarankan punya dana darurat untuk kebutuhan mendadak. Dana ini akan jadi penyelamat hidup saat misalnya sakit keras di luar tanggungan asuransi, membayar kebutuhan penting yang tak dapat ditunda, atau jika tiba-tiba kehilangan sumber penghasilan.

Besarnya dana bervariasi, tergantung kondisi. Jika masih sendiri alias belum berumah tangga atau tak punya tanggungan, disarankan memiliki dana darurat sekitar 4 hingga 12 bulan dari jumlah pengeluaran. Sedangkan kalau sudah menikah atau punya tanggungan keluarga, perlu menyimpan dana darurat sebesar 6 hingga 12 bulan dari pengeluaran.

Setelah semua aman, tinggal pukul gong investasinya.

Apakah investasi di masa pandemi itu aman? Secara umum kondisi pasar memang menurun, tapi tidak di semua sektor. Beberapa sektor seperti teknologi komunikasi, layanan komunikasi, dan kebutuhan pokok malah moncer. Ingin investasi di sektor lain untuk jangka panjang juga boleh, mumpung harganya sedang diskon, kan. Nanti di depan, saat kondisi pasar membaik, kita tinggal panen saja.

Tambahan informasi dari event kemarin, Prudential Indonesia dan Eastspring Indonesia katanya hati-hati sekali dalam penempatan data supaya hasilnya optimal. Saham yang dipilih untuk investasi hanya yang memiliki fundamental baik dan pendanaan kuat. Prinsip itu terbukti bikin portofolio dana investasi di antaranya PRUlink Rupiah Equity Fund, PRUlink Managed Fund, PRULink Fixed Income dan PRUlink Cash Fund, sejak diluncurkan telah mencatatkan hasil positif.

Sekali lagi, jika dana investasinya ada dan siap, pastikan kamu sudah melewati 4 tahap di atas sebelum dana ditanam. Jangan buru-buru. Pikir dulu, cuan kemudian. 🙂

/salam investasi

YOU MAY ALSO LIKE

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Archives

Pin It on Pinterest