RINDU

Sang Pemimpi

Nanti, beberapa tahun atau beberapa puluh tahun ke depan.
Aku akan menceritakan kisah ini kepada anak, cucu, atau cicit.
Tentang dalamnya rasa, yang dengan senang hati kusebut cinta.
Walau yang bisa ditemui hanya rasa dingin dan kegelapan.
Tentang keberanian untuk jatuh ke dalamnya. Telanjang.

Aku tercebur.
Tanpa melihat sekeliling.
Tenggelam.
Cinta, tempat yang aku tuju.
Beku.
Pedih.
Sakitnya membakar, dan membuat demam berbulan.
Tapi tak apa.
Aku berniat melakukannya lagi.

Ini mimpinya Sang Pemimpi.
Bodoh.
Kacau.
Sakit.

Tak mampu memikirkan lainnya.
Terjerumus.
Tak apa, sesekali gila tidak bahaya.
Bukankah tidak ada yang tahu kemana hidup akan membawa.
Secantik dan semuram apa warnanya.

Mungkin nanti, ketika aku mengingat jauh ke belakang.
Tentang kamu, ngilu, dan rindu.
Aku akan tersenyum.
Dan tak akan menyesal untuk semua yang sudah lalu.

/ode rindu nomor tigaribu.

Previous Post Next Post

You may also like

6 Comments

  • Reply jensen

    Hmmm…. 🙄

    February 9, 2017 at 09:40
    • Reply rere

      Adhams pernah bilang, postingan puisi adalah postingan yang paling sulit dikomentari.

      So I cherish all the “Hmmm….” comments.

      Hahaha.
      Terima kasih sudah mampir, Jen!

      February 9, 2017 at 10:39
  • Reply Simbok

    Hmmmm….

    February 9, 2017 at 10:30
    • Reply rere

      Second “Hmmmm..” for this post!

      Hahah, kiss simbok

      February 9, 2017 at 10:36
  • Reply yuli

    Heey, ini reh atemalem susanti kaaahhhh 🙂

    February 13, 2017 at 10:51
    • Reply rere

      eh iyaaa
      ini siapaaaa?

      February 13, 2017 at 10:55

    Leave a Reply to rere Cancel Reply