Saya Bersyukur Masih Hidup

by | Jul 6, 2021 | 14 comments

Hari-hari pertama di awal Mei 2021 saya lewati dengan banyak rebahan. Badan ga enak, seperti sumeng (demam tapi nanggung), pegel-pegel melulu, kehilangan selera makan, dan mulut yang luar biasa pahitnya. Dibawa tidur, kok ya gejalanya nggak berkurang. Biasanya istirahat sehari-dua hari cukuplah buat bikin badan seger lagi. Puncak kesadaran lalu datang saat saya ga bisa membaui apapun.

Covid memang sempat terlintas, tapi karena saya menghabiskan 98% waktu di kamar saja, rasanya kok terlalu jauh berpikir ke sana. Saya dihantam keras saat anosmia datang. Rasanya patah, menyesali 2% waktu yang saya habiskan di luar dan membuat saya terpapar. Marah, kesal, menyesal, marah lagi. Begitu urutannya.

IGD

Tadinya berpikir untuk isolasi mandiri saja langsung. Eh tapi tubuhnya berkata lain. Setelah anosmia, saya jadi tambah lemas. Si Abang lekas mengangkut saya ke IGD untuk diperiksa. Niatnya sih berobat jalan, minta obat saja. Tiba di IGD, dokter langsung cek-cek suhu sambil jaga jarak. Anamnesis kebanyakan tanya jawab, mengurangi sentuhan dan dekat-dekat pasien.

Dokter lekas pesan tes antigen dan minta saya untuk rontgen thorax lebih dulu. Hasil antigen kembali negatif. Di titik ini, dokter menganjurkan pulang ke rumah karena rumah sakit tidak memiliki ruang untuk isolasi pasien dengan gejala ringan. Tak berapa lama, hasil rontgen datang, dan dokter bilang kalau gejala saya sudah masuk kategori sedang karena citra paru-paru yang berkabut khas sekali pasien covid.

Tapi hasil antigen kan negatif?

Iya, tapi anosmia + rontgen bilang sebaliknya. Maka diagnosis perlu ditegakkan. Dokter minta saya menginap di ruang isolasi dan menunggu hasil PCR. Jika hasil PCR negatif, maka saya diturunkan ke kamar perawatan reguler. Jika hasil PCR positif, maka saya tetap di ruang isolasi sampai sembuh.

Dini hari saya diantar ke ruang isolasi di lantai 5. Si Abang hanya boleh mengantarkan sampai lantai 1. Sisanya hanya saya, virus yang bercokol, dan rasa takut yang bukan main.

Hari pertama rawat di ruang isolasi

Ruangan isolasi yang luasnya 5 x 4 meter itu, bukan main nyamannya. Saya punya satu ruangan untuk sendiri, kamar mandi sendiri. Saya bebas mau mematikan/menghidupkan TV dan AC. Yang tidak saya miliki adalah rasa aman. Setibanya di ruangan, petugas yang mengantar bilang, “Kalau suster ga datang setelah dipanggil satu kali, pencet saja terus tombolnya sampai ada yang menjawab, ya.”

Menakutkan.

Memang apa yang bisa terjadi di luar, sampai-sampai suster jaga tidak bisa menjawab panggilan pasien?

Banyak! Banyak yang terjadi.

Ketika saya masuk ruangan, seluruh lantai penuh dengan pasien isolasi. Jumlah perawat tidak sebanding dengan pasien. Dan selalu ada pasien-pasien seperti saya, yang paniknya bukan main, yang takutnya menguasai pikiran, dan bolak-balik memanggil suster demi rasa aman.

Tiga hari pertama, tekanan darah saya naik drastis. Pada pemeriksaan pertama, angkanya tembus 400an. Kepala saya sakit sekali, seperti akan pecah. Sejujurnya saya tidak pernah tau kalau tekanan darah bisa mencapai angka 400an. Tensi normal saya di 90-100an saja biasanya. Saat konsultasi, dokter bilang kemungkinan besar karena rasa takut. Dokter minta suster pantau berkala dan konsumsi obat hipertensi jika kondisi yang sama terus berlanjut.

Tekanan darah perlahan turun ke angka 300an, hingga 130an di hari-hari berikutnya. Tapi sakit kepala terus bertahan. Saya khawatir dengan risiko stroke, saya khawatir ini, khawatir itu.

Tidak ada yang menyenangkan dari terpapar virus ini. Tubuh saya lemasnya bukan main, bahkan untuk ke toilet saja saya harus berjuang keras. Sekembalinya dari toilet, rasanya seluruh tulang lolos, saya seperti boneka yang direndam air, ga punya tenaga bahkan untuk duduk. Saya muntah berkali-kali. Saya tidak mampu menelan makanan karena mual, mulut pahit, dan kehilangan selera makan.

Satu-satunya yang membuat saya tetap makan adalah: dokter meresepkan banyak sekali obat. Obat-obatan itu harus dikonsumsi setelah makan. Saya mendorong makanan di tenggorokan dengan banyak air minum. Banyak air minum artinya saya jadi sering ke toilet. Sering ke toilet itu seperti hukuman buat saya. Seperti lingkaran setan.

Tangan saya bengkak, cairan infus tidak bisa mengalir. Selama dirawat sebelas hari, infus berganti posisi 4 kali. Sebenarnya wajar saja berganti posisi, tapi pada setiap momen pergantian, tusukannya tidak cukup satu kali. Pernah pada satu waktu, tangan saya ditusuk 8 kali dan infusnya baru bisa masuk di tusukan ke-9. Suster pernah juga minta bala bantuan rekannya setelah upayanya gagal berkali. Salah satu suster bilang ke saya, “Kalau di tangan ga bisa masuk, nanti kita coba infus di kaki, ya.”

Horor sekali. Sungguh.

Pada hari-hari yang buruk, saya sempat hilang sadar pada ruang dan waktu. Saya meracau, menangis, meracau lagi, lalu tertidur. Upaya mengingat-ngingat kegiatan sebelum hilang sadar sungguh menguras tenaga. Biasanya sisa chat di smartphone jadi pengingat, sebelumnya chat siapa, di jam berapa.

Lalu, saat kesadaran kembali, dan saya menyadari penuh posisi saya saat itu, saya terhenyak dan lemas kembali. 24 jam terasa lamaaaa sekali, tak habis-habis, dan saya sudah sangat lelah, saya ingin menyerah.

support system!

Tetapi, setiap kali ingin menyerah, kakak dan adik nun jauh di sana seperti mendengar alarm dan menelepon. Minimal sekali sehari mereka menelepon via wasap begini. Saya kebanyakan hanya mendengar sambil senyum-senyum saja, mereka yang banyak cerita, mereka yang beri semangat. Kalau sudah ngobrol sama keluarga, rasa takut sirna sekejap, saya semangat lagi, kuat lagi.

Namun, semangat turun drastis saat saya mendengar ribut-ribut di luar ruangan. Suara ranjang rumah sakit didorong cepat. Suara kaki suster yang berlarian. Lamat-lamat jeritan yang menyusup dari sela pintu.

Di ruang isolasi, saya mengingat mati lebih sering, ketimbang saat hidup 38 tahun sebelumnya. Saya sadar penuh, manusia adalah selemah-lemahnya makhluk. Saya memikirkan banyak hal, soal pekerjaan, soal tanggung jawab, soal email yang belum sempat dibalas, soal janji yang belum bisa saya penuhi. Tetapi yang saya inginkan betul hanya satu, bisa memeluk semua yang saya cintai untuk terakhir kali.

Saya ingin teriakkan keras-keras betapa cinta saya begitu besar untuk semuanya. Tapi upaya saya tidak sama. Saya kurang banyak meluangkan waktu, saya sering sibuk dengan diri sendiri. Kesadaran terus menghantam. Saya sedih sekali.

Idulfitri 2021 saya habiskan di ruang isolasi. Abang dan Embun telepon, saya sedih karena tidak bisa bersama, tapi sekaligus semangat karena hari itu kondisi badan lebih enak dari sebelumnya. Saya girang sekali menunggu jadwal PCR berikutnya. Dokter bilang, jika PCR negatif, saya boleh pulang dan lanjut isolasi mandiri di rumah.

Besoknya hasil PCR datang, dan saya masih positif. Dokter bilang tidak boleh menyerah, karena bisa jadi PCR positif karena masih mendeteksi bangkai virus. Saya diminta check up kembali (rontgen thorax + cek darah lengkap) untuk memastikan kondisi. Jika trennya adalah perbaikan, saya dibolehkan pulang meskipun PCR masih positif. Jika trennya perburukan, saya akan tetap dirawat sampai ada perbaikan.

Sekali lagi, tak ada yang enak dari terpapar virus ini. Harapan saya seperti dilambungkan pada tiap-tiap sesi pemeriksaan, dan dibanting kembali saat hasilnya kembali. Tapi apalah manusia selain berharap, kan? Maka biar dibanting berkali-kali, patah berkali-kali, saya masih berharap hasil tes akan kembali baik.

Harapan saya terbayar kali ini, setelah sebelas hari. 16 Mei 2021, dokter menelepon dan bilang kalau sudah ada perbaikan. Saya diminta lanjut istirahat di rumah dan jangan terlalu lelah. Saya menangis ga habis-habis. Terlalu senang bisa pulang, walaupun saat itu kondisi belum fit 100%.

Di perjalanan keluar dari ruang isolasi, porter menyapa saya dengan ramah.

“Alhamdulillah bisa pulang ya, Kak.”
— “Iya Bang, alhamdulillah.”
“Kemarin ada yang meninggal dua dari isolasi, Semalam juga dua.”

============

Di rumah, adalah perjuangan, tapi lebih ringan. Saya bisa minta peluk, saya bisa dengar suara anak-anak bermain di luar, saya bisa merasakan semangat Embun saat berlari mengejar mangga yang jatuh dari pohon.

Saya pulang, dan masih hidup.

YOU MAY ALSO LIKE

14 Comments

  1. Prima

    Membayangkan rs itu rasanya sama sekali ngga enak, apalagi semenjak ada si kopid sialan, turutt happy mbak Re sehat lagi yaaa

    Reply
    • Jejak Panorama

      Padahal sudah berada di kamar terus ya mbak, tp bisa berkesempatan juga kena covid ini, semoga bisa segera selesai covid ini.

      Reply
  2. Omnduut

    Baru tahu kalau mba Re sempat berjuang untuk sembuh dari covid. Dan alhamdulillah masa-masa gelap itu sudah terlewati. Sehat-sehat selalu ya mb Re dan keluarga.

    Reply
  3. Aminnatul Widyana

    Syukurlah kakak… Rasanya mungkin seperti mendapatkan nyawa gratis dua kali ya?! Semoga dengan kesembuhan yang sudah didapatkan bisa semakin memperbanyak rasa syukur terhadap Tuhan yang sudah memberikan kesehatan kepada kita.

    Reply
  4. nurulrahma

    Mbaaaa, merinding bacanyaaaa
    bersyukur mba Rere sehaattt ya.
    semogaaa senantiasa sehaatt, bisa bareng2 terus sama Embun dan Abang.
    Semangaattt!

    Reply
  5. Maria Soemitro

    #notes

    jadi tau tentang gejala Covid 19 dengan rinci, thanks ya

    saya udah baca tulisan beberapa teman tapi malah bingung karena nggak seperinci ini

    Reply
  6. Ika Maya Susanti

    Membaca ini perjuangan Kakak di tulisan ini sampai membuat saya beberapa kali menahan napas. Alhamdulillah ya Kak semuanya sudah berakhir. TFS buat tulisannya, Saya jadi belajar dari tulisan ini.

    Reply
    • Vicky Laurentina

      Dear Rere, aku baru tahu Rere kena Covid.

      Aku baru tahu juga bahwa gejala Covid tuh separah ini, pasti menderita sekali.

      Senang sekali dengar Rere sudah sembuh. Semoga Rere tidak sakit lagi ya..

      Reply
    • Geg Erni

      Tak terasa air mata ini mengalir. Sehat Sehat selalu ya kk..

      Terimakasih untuk ceritanya. Jadi paham tentang awal gejala covig. Semoga kita semua selalu sehat.

      Reply
  7. Mohammad Ridwan

    Tetep semangat jangan mudah menyerah yuk ah bangkit dan semangat lagi bikin karya positif.

    Reply
  8. Ihwan KeluargaBiru

    Ya Allah Mbak baca pengalamannya dirawat karena Covid, bikin merinding, pengalaman antara hidup dan mati. Saya aja pernah hampir nggak berdaya karena vertigo, itu rasanya waktu berjalan lama sekali.
    Semangat dan support itu penting banget agar bisa sembuh.

    Reply
    • Sarieffe

      Alhamdulillah mba..udah pulang..cepat pulih ya mba..
      Deg-degan aku bacanya, beberapa kerabat juga positif..

      Serem kalau denger kisah soal Covid-19 ini

      Reply
  9. lendyagassi

    Ya Allah…ikutan sedih bacanya, kak..
    Semoga Allah selalu lindungi keluarga dan menjadikan sakit ini ladang pahala.
    Rasa lemesnya sampai begini yaa, kak…sampai hilang kesadaran.
    Subhanallahu…

    Reply
  10. Endah Kurnia Wirawati

    Mau kena penyakit apapun, namanya dirawat di RS itu pasti tidak enak, apalagi dengan virus baru yang obatnya masih belum pasti.

    Alhamdulillah sudah pulih kembali ya mbak. semoga sehat-sehat selalu sampai pandemi ini berlalu ya.
    What doesn’t kill you, only makes you stronger. Semangat!

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. VAKSIN COVID-19 DI MEDAN: PROSES MUDAH, KUOTA BERLIMPAH | Atemalem - […] keluarga lain memulihkan diri dengan isolasi mandiri di rumah, sedangkan saya terpaksa diangkut dan dirawat di ruang isolasi covid…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest