Food Jalan-Jalan

Secangkir Nikmat Kopi Sekanak

Kopi Sekanak adalah salah satu perhentian kami di hari pertama perjalanan #PesonaTanjungpinang. Kopi yang awalnya dihidang khusus raja dan tamu-tamu kerajaan ini sekarang bisa dicicip bebas di Dapoer Melayoe.

Sekanak selalu dihidangkan bersama kayu manis dan kue batang buruk (kue khas Tanjungpinang yang terbuat dari kacang hijau).

Teja Alhabd adalah sosok di balik Dapoer Melayoe. Budayawan sekaligus penyair yang menjadi Ketua Dewan Kesenian Tanjungpinang 2013-2017 ini mengenalkan kembali kopi sekanak, tradisi yang jelang punah, di rumah sekaligus kedai miliknya.

Di Dapoer Melayu, kopi sekanak disajikan sebagai hidangan utama. Ada beberapa penganan lain untuk cemilan ringan seperti roti prata, kirai, lopis, untuk menemani. Tidak disediakan makanan berat di sini, jadi jika terlalu lapar sebaiknya makan dulu di luar.

roti prata

lopis

kirai (roti jala)

Kopi sekanak yang disajikan terdiri dari kopi sebagai bahan utama dan tujuh rempah sebagai pendampingnya. Dari tujuh rempah, Bang Teja hanya menyebutkan empat yaitu: akar bakawali, asam limau purut, cengkeh, dan kayu manis. Sisa rempahnya yang tiga macam masuk kategori rahasia. Haha. Padahal ya saya penasaran banget, udah bujuk-bujuk, tapi tetap empunya bergeming. 😀

Laksana hidangan para raja, kopi sekanak tak bisa diminum sembarang, ada ritual yang harus dijalani. Kemarin, saat hendak mencicipi sesendok sekanak, Bang Teja buru-buru menghentikan saya. “Kita minum sama-sama, ikuti petunjuknya.”

Dudududu, tuh kan kena marah. 😀

Bang Teja memastikan gelas porselen sekanak sudah terhidang juga semua peserta sudah duduk manis dan mendengarkan sebelum arahan pertama diucapkan.

Aduk sekanaknya!

Bukan, bukan aduk diputar-putar macam mengaduk teh hangat di warmindo. Sekanak diaduk dengan cara mencungkil sendok ke arah luar, terus menerus, sampai seluruh bagian susu dan kopi tercampur rata.

Belum!

Sekanak belum bisa diminum langsung karena ada arahan kedua dari Bang Teja. Ambil batang kayu manis yang disajikan bersama sekanak, lalu celupkan ke dalam kopi. Diamkan sebentar, kemudian tarik, masukkan kayu manis ke dalam mulut, dan isap. Ulangi beberapa kali.

Meski sering menggunakan kayu manis untuk bumbu masak, saya belum pernah mengisap batang kayu manis telanjang. Tapi atas nama pengalaman, mengapa tidak dicoba.

Rasanya? Ya rasa kayu manis + susu + rempah + kopi. Orang zaman sekarang akan menggambarkan rasa yang saya cicip tadi dengan satu kata: fantastis. Ini pertama kalinya saya minum kopi yang rasanya bukan kopi. Mau dibilang jamu juga tak cocok karena rasanya tak seratus persen jamu.

Namanya kopi sekanak, Hidangan khusus untuk raja dan tamu-tamu kebesarannya.

Bang Teja di latar belakang, sedang sibuk menjelaskan cara minum sekanak yang baik dan benar.

Ketika seluruh langkah dari Bang Teja sudah ditunaikan, maka bebaslah kita menghirup sekanak. Karena uap wangi kayu manis dan rempah yang menyenangkan, saya tak bosan-bosan menghidu kopi dari pinggir cangkir.

Sebagai pelengkap sekanak, ada kue kering berwarna kehijauan yang dinamakan batang buruk. Kuenya kecil, tapi dimakan sekali hap ke dalam mulut. Gigit pelan, dan seluruh bagian kue akan meleleh di dalam mulut. Untuk saya, kue yang rasanya manis ini, cukup satu. Tapi, jika kamu suka kuenya, boleh minta tambahan batang buruk yang disajikan dalam piring terpisah.

Ahh, hampir terlupa. Sekanak ini cocok juga diminum dengan es. Caranya ambil beberapa potong es, tuangkan sekanak ke gelas sedikit saja, dan goyang-goyangkan sebelum diminum. Cara menggoyangnya mirip-mirip dengan wine, santai saja. Menyesapnya pun demikian, pelan-pelan, jangan digelontorkan sekali masuk ke tenggorokan. Saya suka sensasi dinginnya di mulut. Rasa kopinya lebih ringan daripada sekanak tanpa es.

Karena kurang suka susu, Bang Teja menyiapkan kopi sekanak hitam untuk saya. Saya kira kopi akan disajikan dengan gaya tubruk, ternyata bukan.

Kopi pesanan saya disiapkan pakai siphon. Saya yang baru pertama kali lihat metode ini jadi kegirangan bukan main. Ternyata, setelah dipanaskan, air yang ada di bagian bawah kopi akan naik perlahan, mula-mula sedikit, kemudian baru seluruhnya. Seru!

Setelah dipindahkan ke gelas porselen, butuh waktu 45 detik sebelum kopi siap diminum. Sempat khawatir kopinya terlalu pekat dan tak terminum, ternyata setelah dicoba rasanya cukup ringan, tidak sepekat espresso.

Bang Teja bilang, filosofi kopi sekanak ini mirip-miriplah dengan wataknya orang melayu. Kalau berteman/berkumpul tidak bisa asal gusrak-gusruk, perlu strategi. Jangan menghadapi orang Melayu dengan kekerasan hati, tapi hadapi dengan tutur kata baik dan sikap santun.

Bagaimana, sudah siap beradu kata dengan orang Melayu?

/salam sesap sekanak

– bersama Teja Alhabd, pemilik Dapoer Melayoe

Dapoer Melayoe  
Alamat: Jl. Sultan Mahmud No.11, Tj. Unggat, Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau 29122
Telepon: 0812-7006-0098
Jam buka: 07.30–20.00
Previous Post Next Post

You may also like

12 Comments

  • Reply kw

    menarik… jadi pengen nyoba

    May 11, 2017 at 12:53
    • Reply rere

      Cobain Mas, beneran rasa rempah + kopi disatuin itu, luar biasa! 😀

      May 11, 2017 at 13:03
  • Reply william

    beneran tah ini kopi raja. wah saya pingin nyoba kalau begitu kayaknya enak tuh

    May 11, 2017 at 15:21
    • Reply rere

      Konon begitu, dan hanya dihidangkan untuk tamu kerajaan. 🙂

      May 11, 2017 at 15:32
  • Reply Gesang Sari Mawarni

    Kopinya aman gak buat yang lambungnya bermasalah kak?

    May 11, 2017 at 18:58
    • Reply rere

      Mesti dicoba dikit dulu sepertinya Kak Gesang. Kalau sensitif kopi, bisa jadi ga kuat sih.

      May 12, 2017 at 06:15
  • Reply Memez

    Duhhh kebayang kopinya nikmat banget yaaa

    May 12, 2017 at 07:38
    • Reply rere

      Enak mba, rempah-rempahnya yang bikin spesial. Kalau kopinya Tanjungpinang masih impor dari daerah lain.

      May 12, 2017 at 09:04
  • Reply Rry Rivano

    waa…aku ga suka kopi tapi penasaran sama rasa si batang buruk

    May 13, 2017 at 09:27
    • Reply rere

      Rasanya manis, kak. Krenyes gitu di mulut.

      May 15, 2017 at 21:18
  • Reply Terry Endropoetro

    “Jangan menghadapi orang Melayu dengan kekerasan hati, tapi hadapi dengan tutur kata baik dan sikap santun.” Mirip-mirip ya sama
    “Janganlah lihat mata orang Batak, nanti cinta.” Hahahahahahahaha

    May 15, 2017 at 07:15
    • Reply rere

      Wahahahhaha, ini apaa.. Hahaha..
      *sikut

      May 15, 2017 at 07:25

    Leave a Reply