Jalan-Jalan

Singkawang, Damai Negeri Seribu Kelenteng

Kota Singkawang ini semacam dongeng. Terlalu bagus untuk jadi nyata. Saat teman-teman yang dulu pernah dekat sibuk saling menghujat perbedaan di facebook, manusia-manusia di Singkawang hidup berdampingan dalam damai.
singkawang

Kota Singkawang dihuni masyarakat dari tiga kebudayaan besar: Melayu, Dayak, dan Tiongkok (Hakka). Kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San Khew Jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut. ūüôā

Tidak hanya secara budaya, kehidupan beragama di kota ini juga berlangsung rukun. Di tengah ratusan kelenteng, terduduk manis Masjid Raya Singkawang. Setiap siang, masjid ini akan mengeluarkan puji-pujian lantang lewat speaker besar. Suaranya terdengar ke seantero kota, mengajak umat beribadah bersama.

Masjid Raya, Singkawang

Masjid ini dibangun pada 1885. Sempat terbakar habis pada 1927, sepuluh tahun kemudian, masjid yang baru berdiri kembali. Renovasi untuk memperluas masjid dilakukan pada 1973, 1978, dan 2007.

Gereja Santo Fransiskus Asisi

Di sisi kota yang lain, Gereja Santo Fransiskus Asisi tegak berdiri. Bangunan gereja yang dibangun pada 1885 ini sedap dipandang mata. Selain untuk beribadah, gereja ini dijadikan tempat tujuan wisata baik bagi turis domestik maupun mancanegara.

Gereja Santo Fransiskus Asisi 1

detail cantik di salah satu sudut gereja

 

Singkawang, Negeri Seribu Kelenteng

Meskipun dikenal dengan nama negeri seribu kelenteng, jumlah kelenteng di Singkawang hanya sekitar 700an saja. Ada hampir di setiap gang, besar dan kecil, setiap kelenteng yang ada dikelola dengan baik.¬†Saya dan teman-teman lainnya mengunjungi banyak kelenteng selama di Singkawang, berikut ini 3 di antaranya. ūüôā

Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berada di Jl. Sejahtera, Singkawang ini berdiri sejak 1878. Lokasinya persis di pusat kota, tidak terlalu jauh dari Masjid Raya. Vihara ini dipercaya sebagai tempat berdiam Dewa Bumi Raya yang menjaga kota Singkawang.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya Vihara Tri Dharma Bumi Raya 2 Vihara Tri Dharma Bumi Raya 1

Kebakaran hebat pada 1930an menyisakan patung Tua Peh Kong. Setelah dipugar, patung kembali disimpan di dalam vihara. Oh iya, ada yang berbeda dari patung Tua Peh Kong di vihara ini. Jika di vihara lain Tua Peh Kong membawa tongkat dengan botol arak, di sini Tua Peh Kong membawa Ru Yi (simbol kekuasaan dan keberuntungan).

Vihara Kwan Im Tang

sketsa vihara karya indohoy

sketsa vihara karya indohoy

Vihara Kwan Im Tang ini berada di Jalan GM Situt, Singkawang. Posisinya tidak jauh dari Pasar Turi. Vihara megah ini baru saja dipugar setahun belakangan oleh pengusaha abang-adik asal Jakarta-kelahiran Singkawang, Jong Siau Khiang dan Jong Siau Kong.

Saya agak penasaran dengan motif kedua pengusaha ini. Untungnya saat itu Jong Siau Khiang kebetulan berada di lokasi. Ketika saya tanya, si bapak bilang, “Kita lahir tidak membawa apa-apa, mati pun tidak akan membawa apa-apa.”

Duh, si bapak…

Vihara Kwan Im Tang 2

detail yang cantik dan rumit di tiap sudut vihara

Vihara Kwan Im Tang

ukiran batu menyambut pengunjung di pintu masuk vihara

Vihara Surga dan Neraka

Nama Vihara ini agak seram, ya. Sebelum berangkat, pikiran saya sudah terbang kemana-mana, membayangkan bentuk vihara tertinggi di Kalimantan Barat ini . Berada di punggung Gunung Passi, tepatnya di Kampung Sempalit, 12 km dari pusat kota Singkawang., vihara ini cukup mudah dicapai. Memang tracknya menanjak, tapi jalurnya sudah bagus.

Kelenteng Surga dan Neraka

Kembali soal nama vihara yang agak unik. Nama ini konon disematkan karena di kelenteng banyak terdapat patung dewa-dewa yang berada di surga dan di neraka. Komplek vihara ini terdiri dari tujuh buah vihara yang letaknya terpencar. Proses sembahyang dilakukan dari vihara nomor 1 berurutan hingga ke nomor 7.

Vihara ini sangat bersih, setiap pengunjung wajib membuka alas kaki jika ingin memasuki bagian dalam vihara.¬†Setelah melepaskan alas kaki, pengunjung masih harus membilas kaki di kolam air mengalir pada dasar tangga vihara. Setelah “dibersihkan”, pengunjung dibolehkan naik ke lantai atas.

Pemandangan dari lantai atas sungguh indah. Kami diberkahi dengan langit biru nan cantik. Kami sempat duduk-duduk santai di lantai atas sambil menikmati angin yang bertiup.

Kelenteng Surga dan Neraka 1

Patung naga di Vihara Surga Neraka

Meskipun berupa tempat ibadah, vihara di Singkawang bebas dikunjungi wisatawan. Pastikan untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dan usahakan tidak mengganggu orang yang sedang beribadah ya. ūüôā

/salam kelenteng

——————————————————-

Terimakasih untuk Simbok Venus, Satya, dan Ivan yang bersedia memoto saya di sana. Laafff… ūüôā

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Silakan mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang. 

Previous Post Next Post

You may also like

8 Comments

  • Reply vira

    klenteng ini gilaaaaa banget detailnya! salut!

    March 1, 2016 at 08:04
    • Reply rere

      Iyaa, Laaaaffff..

      March 1, 2016 at 08:23
  • Reply venus

    penasaran, vihara koelor nanti jadinya kayak gimana bagusnya ya? kata pak Jong, yang kulor lebih gede dan lebih megah daripada vihara kwan im.

    March 1, 2016 at 11:31
    • Reply rere

      mungkin kita harus lihat langsung gimana megahnya, mbok

      March 2, 2016 at 00:44
  • Reply venus

    komenku tadi ilang? jyah!

    March 1, 2016 at 12:16
    • Reply rere

      adaaaa

      March 2, 2016 at 00:44
  • Reply Satya Winnie

    Duh yang pakai choengsam cantik sekali yaaa. Hahaha. Iya senang sekali dengan kota Singkawang yang penuh toleransi ini ūüôā

    March 1, 2016 at 17:35
    • Reply rere

      aishhh, ^^
      iya, kotanya asikk

      March 2, 2016 at 00:44

    Leave a Reply