Cerita Parenting

Susu oh… Susu

Tidak ada yang tahu kapan penyakit akan menghampiri Anda. Tiba-tiba dia datang, dan dhuarr, kita baru sadar kalau tidak punya persiapan apapun. Pertengahan bulan lalu, saya terpaksa dirawat inap di rumah sakit, bukan sehari, atau dua, tapi sepuluh hari.

Bagi ibu menyusui seperti saya, yang paling saya butuhkan adalah stok asi perah dan pengasuh yang rela menjaga bayi 24 jam. Stok asi perah di rumah, selalu saya siapkan cukup untuk 3 hari, stok ini terus saya kejar selama seminggu pertama di RS, sebelum tindakan pembedahan dilakukan. Produksi ASI saya cukup baik selama di RS, sehari saya bisa mengumpulkan hingga 1liter ASI perah untuk si bayi yang hampir berumur empat bulan.

Minggu sore, beberapa tetangga yang menjenguk membawa serta bayi saya ke RS, duh… seminggu tidak menyusui langsung, rasanya rindu berat. Sudah terbayang decapan mulut si bayi. Saat si bayi sudah di dekapan saya, segera saya menyodorkan sebelah payudara. Dan, dia menolak. Saya masih berprasangka baik, mungkin posisinya tidak nyaman. Saya coba posisi menyusui tidur, duduk, dan sambil berdiri, lalu si bayi mengamuk.

Dia haus, tapi tidak mau menyusu langsung. Duh Gusti, rasanya hancur hati saya. Susah payah saya menahan air mata di depan ibu-ibu komplek.  Si bayi sudah “lupa” payudara ibunya.

Lalu, hari pembedahan pun tiba.

Saya tersadar pukul 2 siang, dan hal yang pertama kali saya pikirkan adalah, saya belum memerah. Saat itu badan saya penuh selang, dari hidung, mulut, dan kemaluan. Nyeri bukan main + ngantuk pengaruh bius yang belum sepenuhnya hilang. Jam 6 sore saya paksakan memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri untuk memerah, hasilnya mengecewakan. Gabungan nyeri, kuatir asi tidak cukup dan bayangan si bayi bingung puting membuat produksi asi menurun.

Saya panik.

dan ASI semakin lambat keluarnya.

Meminta donor ASI adalah hal terakhir yang saya pikirkan, bukan karena saya tak percaya pada si pendonor, tapi saya percaya asi yang saya perah langsung bukan cuma berisi makanan, tapi juga cinta, kasih sayang, dan rasa aman.

Berbekal dua post di twitter, saya berdoa. Twit itu ternyata di RT dan direply banyak orang, beberapa bahkan mengontak langsung saya lewat pesan singkat. Terimakasih saya haturkan pada teman (yang bahkan belum pernah bertemu) untuk bantuannya. Satu liter asi perah beku malam itu berpindah ke kulkas saya. 😀

Sampai di rumah, saya memutuskan membuang asi yang saya perah usai pembedahan. Asi perah itu, tidak terjamin keamanannya untuk si bayi. Memang, saya sudah meminta dokter memberikan obat yang aman untuk menyusui, tapi melihat banyak sekali cairan yang diinjeksikan ke dalam infus pasca operasi, saya tidak yakin.

Rasanya membuang asi seember itu seperti….. entahlah. Saya matikan perasaan saya, saya tutup mata saya.

Oh iya, bukan saya yang membuang asinya ke saluran air, tapi ibu saya. *Kalau saya yang membuang, bisa-bisa asinya balik saya simpan lagi di kulkas. :p

Ah kawan, terimakasih untuk dukungan dan doanya.. Sekarang saya sedang belajar menyusui lagi, si bayi sedang belajar menyedot puting lagi, semoga saja akhirnya si bayi sadar puting saya lebih nikmat daripada dot plastik ituh.

/salam susu

Previous Post Next Post

You may also like

7 Comments

  • Reply flafea

    ayo nikmati proses ini, demi anak sehat! salam ASI! *peluk kenceng* XD

    June 2, 2011 at 02:12
    • Reply rere

      makasi mbak-e…. 😀

      June 3, 2011 at 03:00
  • Reply indahjuli

    ah, terharu membacanya.
    Bener, Re, kalau kita yang melakukan pembuangan itu bakal nggak jadi, rasanya darah kita yang terbuang.
    Insya Allah, Embun tahu nenen Bundanya lebih enak 😀
    Semangat!

    June 2, 2011 at 15:43
    • Reply rere

      iya mbak, makanya aku tutup mata aja deh.

      June 3, 2011 at 03:01
  • Reply fairyteeth

    ya ampun…. terharu mbaca nya mba…. jadi Embun sempet gak mau nyusu dari ibunya? :'(

    June 3, 2011 at 02:57
    • Reply rere

      iya dit, geleng-geleng terus ngamuk, huihh sedihnya.
      sekarang ini masi belajar nenen lagi.

      June 3, 2011 at 03:02
  • Reply Catatan: Berjuang Demi ASI | SEDIKIT CERITA UNTUK KENANGAN

    […] kembali cerita soal menyusui. Pada satu masa, saya pernah harus dioperasi dan menginap di RS selama sepuluh hari. Waktu itu yang saya pikirkan bukan biaya rumah sakit (karena sudah ditanggung […]

    June 8, 2016 at 08:04
  • Leave a Reply