Sehat

Tak Cuma Cari Jodoh, Berobat pun Harus Cerdas

Waktu masih muda kinyis-kinyis, saya menerapkan beberapa peraturan dalam hidup, salah satunya adalah soal jodoh. Saya mengeliminir lelaki-lelaki dari suku tertentu karena “katanya”, suku A begini, suku B begini.

Jelang dewasa, perburuan jodoh saya mengalami perubahan. Alih-alih meneruskan peraturan soal jodoh, saya menggantinya dengan kriteria lain, fisik dan mental. Saya pingin punya jodoh yang ganteng, kalo bisa mirip-mirip Ariel gitu deh, pinter nyanyi, pinter main musik, sayang sama saya, dan orang kaya!

Belakangan, saya menyadari kalau ada beberapa hal yang tidak bisa saya dapatkan. Pencarian jodoh berhenti di satu kata, “baik”.
Apapun sukunya, bagaimanapun rupanya, punya masalah apapun dia, saya cuma mau, jodoh saya nanti orangnya baik, mulai dari niat hingga tingkah lakunya.

Satu kata tapi susah yaa.. Soal baik ini, tidak saya tawar-tawar lagi. Sampai berjodoh pada akhirnya, hanya orang baik itu saja yang pantas bersanding dengan saya di pelaminan. Soal pencarian jodoh ini, saya lumayan cerdas. 😀 *memuji diri sendiri* *semoga aja jodohnya panjang*

Nah, selain soal jodoh, hal lain yang menurut saya harus dilakukan dengan sama cerdasnya adalah, penggunaan obat!

Dulu, waktu kuliah, saya ini langganan obat-obatan. Sakit pusing dikit, ke klinik kampus mumpung gratisan. Luka dikit, ke klinik. Ingusan, ke klinik kampus juga. Kalau pacar saya kartu kliniknya bersih, saya sampai ganti kartu karena kartu yang pertama udah penuh, dengan cepat!

Kalau dipikir, saya dulu gila! Gila obat!

Rajin berobat ke klinik bikin saya jadi penimbun obat. Saking banyaknya, saya sampai ga tau lagi obat yang ini buat apa, dan yang itu untuk apa.

Sekali lagi, gila!

Pertobatan saya soal obat dimulai setelah menikah dan berencana hamil. Banyak baca referensi soal obat-obatan bikin saya sadar kalau kebanyakan obat yang saya konsumsi itu SAMA SEKALI GA DIPERLUKAN!

Iyah, bener, kita ga perlu obat buat nyembuhin penyakit-penyakit yang umum terjadi, seperti batuk, pilek, demam, diare, dan muntah. Penyakit-penyakit umum itu semuanya bisa sembuh dengan kerja kerasnya daya tahan tubuh.

Tapi kan batuk dan pilek itu ganggu, kak?
Iya sih, tapi batuk dan pilek itu justru refleknya tubuh buat melindungi paru-paru, lho. Bayangin kalo kita ga batuk atau pilek waktu ada zat/benda asing masuk. 🙁

Jadi, batuk atau pilek itu bagus atau nggak? Bagus dong! Karena itu jangan minum obat. Biarkan tubuh bekerja menghalau virus dari badan.

Sekarang soal diare! Biasanya, orang-orang akan panik waktu diare, Trus, buru-buru minum obat supaya mampet. Padahal yaa, diare dan muntah itu mekanismenya tubuh buat buang racun, lho!

Jadi, muntah dan diare itu bagus atau jelek? Ya bagus dong! Jangan minum obat ya, biar daya tahan tubuh bisa kerja maksimal. Kuatir waktu diare? Pastinya. Tapi obatnya diare ini cukup oralit kok, jaga cairan tubuh, plus istirahat yang cukup. Oh iya, ini penting. Diare memang ga perlu obat. Tapi diare dengan darah itu perlu diwaspadai, kunjungi dokter kalau berlanjut.

Iya, saya ini ga asal bicara kok. Ini beneran kalo batuk, pilek, muntah, diare beneran bisa sembuh sendiri. Ga perlu obat sama sekali, apalagi antibiotik. Kenapa ga perlu antibiotik? Karena umumnya batuk, pilek, muntah, dan diare penyebabnya itu virus. Virus itu ga bisa hilang dengan antibiotik.

Kalau batuknya berdahak, gimana Re?

Nah, batuk berdahak ini penyebabnya juga virus. Memang sih kita bakalan susah napas dan rasanya ga nyaman kalau lagi batuk berdahak, tapi tetap ga perlu obat apapun buat sembuh. Supaya dahaknya encer, cuma perlu sering-sering berjemur di bawah sinar matahari, plus aktivitas fisik yang banyak. 🙂

Soal antibiotik ini agak susah memang, soalnya dari dulu waktu kecil dokter tuh dikit-dikit ngeresepin antibiotik buat sakit ringan. Sebagai pasien, kesadaran akan obat juga belum timbul. Jadi, apa yang diresepkan dokter, semua langsung di-lep, masuk mulut.

Bukan ga boleh minum antibiotik lho. Antibiotik malah perlu banget diminum kalau diperlukan tubuh. Prinsip antibiotik itu mematikan bakteri, nah masalahnya di dalam tubuh itu ga cuma ada bakteri jahat, tapi ada juga bakteri baik. Waktu minum antibiotik, bakteri-bakteri itu bakalan mati. 🙁

Penyakit yang butuh obat itu biasanya karena bakteri jahat, contohnya thypus, disentri, TBC. Sekali lagi, bukan ga boleh minum obat, tapi minum pada waktu yang diperlukan. Obat ini penting! Proses penemuannya lama. Sayang kan kalo pas butuh, badan kita udah kebal sama jenis obat tertentu. Istilahnya sih superbug, terjadi waktu bakteri ga mempan lagi dengan antibiotik apapun. Terjadinya karena konsumsi antibiotik berlebihan.

Duh panjang ya ceritanya.. Gapapa ya, sekalian berbagi ke temen-temen sekalian. Selain baik untuk tubuh, cerdas memilih obat juga penting buat dompet, kan? Jarang berobat = jarang keluar duit!

Soal penggunaan obat secara cerdas ini juga jadi perhatiannya Kementerian Kesehatan, lho. Sekarang ada yang namanya @gemacermat, alias Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat. Gerakan ini punya visi mengurangi penggunaan obat yang ga perlu.

HKN

Sabtu, 14 November lalu, gerakan ini diperkenalkan kembali dalam event Hari Kesehatan Nasional ke-51 di Jakarta Expo Kemayoran. Cerita soal penggunaan obat meluncur dengan manis dari beberapa narasumber, ada dr. Purnamawati Sp.Ak, Pendiri Yayasan Orang tua Peduli (YOP) dan Anggota Komite Pengendalian Resistensi Anti Mikroba Kemenkes RI; ada juga Dra. Azizah Wati, Ketua Umum Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) & praktisi farmasi komunitas, plus pembicara dari Kementerian Kesehatan, Drs. Bayu Teja Muliawan, Apt, M.Pharm, Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian.

Hadir di acara kemarin bikin saya makin melek penggunaan obat. Karena menurut saya penting, informasinya saya bagikan di sini. Semoga informasinya bisa bermanfaat dan teman-teman sehat semuanya!

/salam sehat

Previous Post Next Post

You may also like

5 Comments

  • Reply Tanti Amelia

    ck ck ck . jangan2 semua orang Indonesia emang hobi minum obat ya Re

    November 21, 2015 at 15:41
    • Reply rere

      mungkin mba.
      sugesti cepat sembuh bikin obat laku.

      November 22, 2015 at 02:02
  • Reply Ruang Freelance

    Kalo sekarang aku lebih milih obat herbal daripada obat (kimia) dr dokter, lebih aman untuk jangka panjangnya. good luck mbak

    November 27, 2015 at 08:27
    • Reply rere

      Sama-sama.
      aku kalau bisa, diobati di rumah dengan makan sehat dan tidur. 🙂

      November 30, 2015 at 14:48
  • Reply Jangan Malas Tanya Obat | SEDIKIT CERITA UNTUK KENANGAN

    […] postingan kemarin dulu soal obat, saya mau kasi tips-tips supaya kita ga jadi pasien yang dicekokin obat tanpa paham kandungan dan […]

    November 30, 2015 at 18:37
  • Leave a Reply