Yuk Belajar Kenal Alergi

by | Aug 8, 2015 | 4 comments

Punya bakat alergi? Pada beberapa orang bakat alergi ini cukup menghambat aktivitas. Ada yang mesti jauh-jauh dari udara dingin, dari debu, dari makanan tertentu misalnya seafood, bahkan jenis bahan baju juga bisa mencetuskan alergi.

allergy

Nah, alergi ini biasanya muncul sejak kecil. Dokter pada umumnya menganjurkan orangtua untuk mengeliminasi pencetus alergi dan setelah mengetahui penyebabnya sebisa mungkin menjauhkan bayi agar ga sering-sering terkena dampaknya. 

Siapa saja yang beresiko terkena alergi?
Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) – Divisi Imunologi-Alergi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM bilang, bayi dengan risiko tinggi alergi adalah bayi dengan riwayat alergi yang kuat dalam keluarga, yaitu alergi pada kedua orangtua atau alergi pada salah satu orangtua dan minimal 1 saudara kandung. Bayi yang memenuhi kriteria tersebut memiliki risiko 40-60% untuk mengalami alergi di kemudian hari.

Prof Yvan Vandenplas, pakar gastroenterologi dan nutrisi anak dari Vrije Universiteit Brussel Belgia di acara Nutritalk – Nutrisi Awal Kehidupan untuk Atasi Dampak Jangka Panjang Alergi pada Anak -kemarin bilang, asma, rinitis alergi, dan eksim (dermatitis atopik) umum ditemukan pada anak yang bereaksi terhadap allergen tertentu.

Alergi berasal dari bahasa Yunani, Allon argon artinya reaksi yang berbeda atau menyimpang dari normal terhadap berbagai rangsangan/zat dari luar tubuh misalnya terhadap makanan, debu, obat-obatan dan sebagainya.

Kalau atopik? Atopik berasal dari bahasa Yunani topos, artinya tempat, A-topos artinya tidak pada tempatnya. Dalam dunia kedokteran istilah ini artinya bakat terhadap terjadinya alergi yang diturunkan.

Resiko alergi pada bayi akan semakin tinggi dengan kondisi :
1. Bila memiliki riwayat keluarga alergi
2. Bila seorang ibu hamil yang merokok atau berada di lingkungan perokok
3. Anak tidak mendapat ASI atau hanya sebentar mendapatkannya
4. Polusi
5. Diet (asupan yang tidak sehat, banyak pengawet/MSG).

Nah, di acara Nutritalk kemarin, Dr. Zakiudin juga menjelaskan soal gejala klinis saat terjadinya alergi. Gejala reaksi alergi biasanya muncul pertama kali pada masa kanak-kanak  dan dapat berlanjut hingga dewasa. Sekitar 20% anak usia < 1 tahun pernah mengalami reaksi alergi, salah satunya alergi terhadap makanan.

Sebagian besar  gejala alergi pertama kali mengenai saluran cerna, hal ini disebabkan saluran cerna merupakan tempat pertama kali kontak dengan makanan. Selain saluran cerna, gejala alergi lain yang mudah terlihat adalah bengkak dan gatal di bibir sampai lidah dan orofarings, nyeri dan kejang perut, muntah sampai diare berat dengan tinja berdarah.

Ini dia pencetus alergi pada anak.

Ini dia pencetus alergi pada anak.

Golongan makanan yang sering menimbulkan alergi:
1. Susu sapi
2. Telor
3. Kacang-kacangan
4. Seafood

Jika tidak bisa mengonsumsi 4 jenis makanan di atas, bisa coba jenis makanan lain seperti ayam, daging sapi, dan sayur-sayuran untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya, ya. 🙂

Alergi bisa disembuhkan atau dicegah, kah? Bisa!
Pengobatan dan pencegahan alergi makanan bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :

  1. Eliminasi makanan alergen. Ganti dengan makanan yang senilai untuk mencegah malnutrisi. Umumnya alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu.
  2. ASI eksklusif. ASI merupakan produksi dari ibu, sehingga umumnya tidak mengandung protein asing yang dapat memicu reaksi alergi. Disamping itu, ASI memiliki kandungan IgA yaitu antibodi yang berguna melapisi dan melindungi saluran cerna bayi sehingga protein asing tidak mudah menembus ke aliran darah bayi. ASI juga mengandung bermacam-macam antibodi lain yang mampu melindungi bayi dari infeksi.
  3. Makanan pengganti ASI /susu formula, formula susu sapi yang sudah diproses: Hipoalergenik (untuk pencegahan), Non alergenik (untuk yang sudah alergi susu sapi).
  4. Menghindari asap rokok pada ibu hamil dan menyusui.
  5. Penggunaan obat anthistamin H1 dan H2.

Khusus untuk anak dengan alergi susu sapi, memang masih bisa jika tetap ingin mengonsumsi susu sapi, tapi protein susu sapinya harus dipecah dulu sebelum diberikan kepada bayi. Untuk memecah protein pada susu dibutuhkan yang cukup mahal dan cukup banyak orangtua yang keberatan. Dr Zakiudin menjelaskan, susu formula Non alergenik, bisa juga diganti dengan susu kedelai.

Masih di acara yang sama, Olivier Pierredon, President Director Sarihusada meluncurkan website terbaru, kenalialergi.com. Website ini kata Olivier bisa membantu orangtua mengenali resiko alergi pada anak. Pada website akan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab tentang kondisi anak, setelah dijawab akan ada kesimpulan soal resiko alergi, apakah tidak beresiko, tidak dapat dipastikan beresiko, atau beresiko tinggi.

Jadi, misalnya anak sering mengalami satu dari beberapa reaksi alergi, coba jawab pertanyaan pada kuisioner lebih dulu untuk menguatkan kecurigaan alerginya. Jika kemungkinan alergi cukup tinggi, disarankan untuk konsultasi ke dokter agar tumbuh kembang dan kebutuhan nutrisi anak tidak terganggu.

Punya bakat alergi? Yuk isi kuisionernya dan jadikan rujukan untuk konsultasi ke dokter. 🙂

/salam sehat.

YOU MAY ALSO LIKE

4 Comments

  1. Lidya

    demi tumbuh kembang anak,sebagai orang tua harus belajar mengenal alergi dan cara menanganinya ya

    Reply
    • rere

      iya, banyak PR ya mba jadi orangtua.

      Reply
  2. vivi

    Makasiih ya mba. Sharenya… Aku udah coba masuk.. Gak akurat ya kenali alerginya mba? Anakku jelas2 alergi, jawabannya ngga.. Hihi… Menurutku poin2nya kurang mba…

    Reply
    • rere

      Katanya masih dalam pengembangan mba, nanti akan lebih banyak pertanyaannya dan lebih mendetil lagi.

      Reply

Leave a Reply to Lidya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives



Pin It on Pinterest