Jakarta dan Hunian Idaman

Waktu akan menulis ini, saya membawa benak mundur 11 tahun ke belakang. Pertama kali menjejak Jakarta modal satu ransel isi baju dan ijazah, berbekal surat panggilan tes kerja. Mungkin kalau waktu itu saya sudah sadar selfie, saya jadi punya kenang-kenangan satu fase hidup. Perempuan, 22 tahun, baru lulus kuliah, menanggung tas di punggung, kucel, layu, kelelahan, tapi sinar matanya penuh harapan.

Jakarta!

ilustrasi foto. #red

Continue reading Jakarta dan Hunian Idaman

Mati Berulang Kali

Selamat pagi lelaki kesayangan yang jauh dari jangkauan.
Apa kabarmu hari ini?
Aku memikirkanmu nyaris bersamaan dengan terbukanya mata
Saat pagi tiba dan raga tak lagi butuh jeda.
Sebenarnya tak persis seperti itu
Karena di alam mimpi, apapun, dan bagaimanapun
Kau tetap ada, bersembunyi rapi, lalu sesekali muncul untuk mengganggu.
Bukan, bukan aku tak suka diganggu
Hanya saja berikan aku waktu, karena perih kemarin belum lagi pulih
Tangis kemarin belum lagi tunai. Continue reading Mati Berulang Kali

Karena ingatan itu pendek dan kenangan itu abadi